Lebih dari Seperempat Anak Jakarta Masih Gagal Tumbuh

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gagal tumbuh sehingga tubuhnya pendek.

Lebih dari Seperempat Anak Jakarta Masih Gagal Tumbuh
Warta Kota
Kampanye Nasional Pencegahan Stunting di Silang Monas, Minggu (16/9/2018). 

Sebanyak 27 persen anak-anak Jakarta masih stunting. Walaupun masih dibawah angka nasional. Prevalensi secara nasional di perkotaan jumlah anak stunting mencapai 32 persen. Sementra di pedesaan lebih tinggi, mencapai 42 persen.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengakui banyak masalah yang harus dihadapi Jakarta. Namun stunting menjadi masalah mendasar yang harus dibereskan.

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gagal tumbuh sehingga tubuhnya pendek.

"Kita menyadari bahwa, ini (stunting, Red) masalah mendasar yang tidak boleh dibiarkan lewat tanpa diselesaikan. Ada banyak masalah di hadapan kita tapi masalah stunting adalah salah satu masalah yang paling mendasar yang harus kita bereskan," ujar Anies saat memberikan sambutan di acara Kampanye Nasional Pencegahan Stunting di Silang Monas, Minggu (16/9/2018). Turut hadir di acara tersebut diantaranya Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek, dan staf kepresidenan Moeldoko

Menurut orang nomor satu di Jakara ini, angka stunting di Jakarta cukup memgkhawatirkan.

"Jakarta, meskipun dibawah rata-rata Nasional, kita ini masih 27 persen. Angka ini harus kita kurangi (dan) harusnya di Jakarta sudah tidak ada lagi anak yang stunting," ujarnya.

Lalu ia meminta ibu-ibu yang hadir di acara tersebut dari PKK, PAUD, Posyandu untuk berkomitmen perangi stunting.

"Ibu-ibu, kita komit ya untuk perangi stunting. Siap? Sama-sama kita seriusi, nanti akan ada program-program bersama dengan lintas kedinasan. Kita ingin memastikan bahwa intervensi gizi sensitif itu bisa secara serius kita tuntaskan. Dan harapannya nanti stunting di Jakarta akan menurun," papar Anies.

Ia menjelaskan, penurunan angka stunting sangat tergantung peran orangtua, dan berbagai pihak termasuk Pemerintah. Sering ditemui kenyataan di lapangan, terkadang merasa tinggal di perkotaan, merasa makanannya sudah cukup, rasanya aman dari problem stunting, ternyata tidak.

"Harus lebih serius melihat makanan- makanan dan asupan-asupan yang diberikan kepada anak-anak kita terutama di 1000 hari pertama kehidupan , karena di situlah sebenarnya kuncinya. Jadi nanti kita akan pastikan program-program pemberian makanan tambahan kemudian inisiasi menyusui dini, pemberian Asi eksklusif dan berbagai macam kegiatan lainnya kita laksanakan di Jakarta tapi kita harus kerjakan sama-sama , Pemerintah dan masyarakat," tuturnya.

Ia berharap bila saat ini ada 27 persen (kasus stunting), temuan berikutnya lagi, bisa dikatakan bahwa Jakarta sudah bebas stunting.

"Kalau di Jakarta saja tidak terlaksana bagaimana bisa berharap di pelosok. Ke depan di Jakarta sudah tidak boleh lagi ada kejadian-kejadian seperti ini," tegas Anies.

Ia mengakui, kenyataan di Jakarta, kemiskinan dan ketimpangan adalah masalah yang amat besar dan mendasar. Dan ingin secara serius membereskan itu.

Anies mencontohkan, masalah air di Jakarta, 42 persen penduduk tidak mempunyai akses pada air bersih. Tapi selama 12 tahun tidak pernah menambah pipa air di Jakarta. Padahal 42 persen tidak punya air bersih.

51 persen penduduk Jakarta (berdasarkan data BPN) itu punya tanah. Sebanyak 49 persen lainnya, separuh penduduk Jakarta tidak punya tanah.

"Jadi bisa dibayangkan masalah stunting ini satu dari sekian banyak deretan masalah ketimpangan. Jadi kita ingin dari Pemerintah pusat juga ada dukungan, kita bereskan sama-sama faktor yang menyebabkan kemiskinan lintas generasi, kemiskinan biar berhenti di satu generasi. Generasi berikutnya harus merasakan kesejahteraan dan kemajuan," katanya. (Lis)

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: ahmad sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved