Pengamat: Gaya Kepemimpinan Sandiaga Lebih Egaliter, Anies Anti-kritik

Anies Baswedan dinilai anti-kritik atas sikapnya yang terkesan enggan meladeni media sebagai jembatan antara pemerintah-masyarakat.

Pengamat: Gaya Kepemimpinan Sandiaga Lebih Egaliter, Anies Anti-kritik
Warta Kota
Calon Wakil Presiden (Cawapres), Sandiaga Uno didampingi anggota komisi I DPR RI dari fraksi Gerindra, Rachel Maryam Sayyidina makan nasi liwet bersama warga Cilame Permai, Ngamprah, Bandung Barat pada Kamis (13/9/2018) siang. 

GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai anti-kritik atas sikapnya yang terkesan enggan meladeni media sebagai salah satu jembatan antara transparansi informasi pemerintah dengan masyarakat.

"Kalau saya lihat beliau belakangan banyak menghindar pertanyaan-pertanyan media, saya melihat satu bahwa kalau anti-kritik itu sikapnya ya," kata Pengamat kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah saat dihubungi, Jumat (14/9/2018).

Ia mengatakan, Anies seharusnya mencontoh Gubernur sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menjalin komunukasi dengan masyarakat melalui media.

Bahkan di era kepemimpinan Ahok, ia mempersilakan masyarakat Ibu Kota mengadukan permasalahannya langsung ke Balai Kota DKI Jakarta.

"Seperti apa yang dulu Pak Ahok lakukan dengan menerima keluhan di Balai Kota itu adalah salah satu cara bagaimana demokrasi itu berlangsung," kata Trubus.

Padahal Anies sebelumnya secara rutin melakukan jumpa media seputar permasalahan di Jakarta, namun kini hal itu jarang dilakukan.

Menurut Trubus, sikap Anies itu terjadi sepeninggalan Wakilnya Sandiaga Uno di posisi Wagub DKI.

Sosok Sandiaga disebut lebih bisa mengimprovisasi kritikan yang datang kepada dirinya dan memiliki sifat egaliter atau seorang pemimpin yang mampu mendudukkan dan memposisikan dirinya sebagai bagian dari rakyat dan tidak ada sekat antara pemimpin dan yang dipimpin.

Namun dengan hengkangnya Sandiaga, ditambah saat ini Anies hanya sendiri di DKI, membuat sifatnya yang anti-kritik terlihat dengan jelas.

"Kalau dulu kan beliau (Anies) seperti itu ketutup sama pak Sandi. Pak Sandi orangnya lebih egaliter, sehingga kalau dapet kritikan beliau selalu berimprovisasi demi perbaikan," ucap Trubus.

Selain anti-kritik, Trubus menilai Anies yang kerap kali menghindar dari media juga dianggap tak menguasai pokok-pokok persoalan di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

"Beliau itu kurang menguasai masalah, sehingga dia tidak tahu kemana arahnya. Pak Anies ini kelihatan dalam pengambilan keputusannya kurang proporsional, kurang tegas gitu, jadi ada keraguan," ujarnya.

Trubus mengatakan, sebagai pejabat publik, Anies tak boleh menjaga jarak dengan media, sebab hal tersebut sama saja dengan menjauhkan diri dari masyarakat.

"Menurut saya ini menyangkut etika pejabat publik, ini jadi kurang bagus kurang baik, seorang penyelenggara negara kan dia harus dekat dengan masyarakat," ujarnya. (M16)

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved