Rupiah Melemah, Netizen Rindukan Soeharto

Mereka mengeluhkan kondisi perekonomian era Joko Widodo saat ini, dan membandingkan situasi ketika era Soeharto memimpin.

Rupiah Melemah, Netizen Rindukan Soeharto
Tribunnews.com
Presiden Soeharto pada saat mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Merdeka, Jakarta, pada tanggal 21 Mei 1998. 

MELEJITNYA nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini berada di angka Rp 14.814 per USD pada Kamis (13/9/2018), membuat sebagian kalangan masyarakat berkeluh kesah.

Mereka mendambakan sosok Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto, memimpin negara. Hal tersebut terlihat dari ramainya komentar dalam setiap postingan putri pertama Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana, yang akrab disapa Mbak Tutut.

Mereka mengeluhkan kondisi perekonomian era Joko Widodo saat ini, dan membandingkan situasi ketika era Soeharto memimpin.

Baca: Dua Kali Terciduk karena Menyuap, Suami Inneke Koesherawati: Sekarang Saya Sudah Kapok

Seperti dalam postingan Mbak Tutut lewat akun Instagramnya @tututsoeharto; ketika mendampingi Soeharto berkunjung ke Amerika Serikat pada 1982 silam. Netizen mengaku rindu sosok Soeharto yang dianggap mampu membangun negeri dengan tetap meringankan beban hidup rakyat.

"Ini foto ketika mengikuti kunjungan Bapak ke AS pada tahun 1982," tulis Mbak Tutut melengkapi potret dirinya bersama Soeharto.

Aliza lewat akun @aliza2301 salah satunya. Dirinya mengelu-elukan kehidupan era Orde Baru yang mudah mencari pekerjaan dan biaya hidup terjangkau.

Baca: Sukses Asian Games 2018 Bikin Indonesia Pede Ikut Bidding Olimpiade 2032

"Jaman pak harto cari duit gampang, apa2 murah, skrg cari duit stgh mati dan apa2 mihiiilll," tulisnya dalam postingan Mbak Tutut.

"Setiap ibu @tututsoeharto memposting foto yang ada Pak Hartonya pasti saya senyum dan rindu beliau. Indonesia rasa damai ditangan beliau, semoga mendapat tempat terbaik disisi Allah," balas Dewi Rey lewat akun @wiew_ray.

Eko Wibowo lewat akun @ekowboy mengingatkan warisan Soeharto lainnya. Salah satunya adalah pemutaran film G30SPKI setiap tanggal 30 September.

Baca: Jokowi Targetkan Indonesia Finis di Posisi Tujuh Besar pada Asian Para Games 2018

Film tersebut menceritakan kudeta yang dilakukan oleh kelompok Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memicu ketidakstabilan negara, termasuk ekonomi. Hingga akhirnya Mayor Jenderal Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Komando Strategi Angkatan Darat kala itu menumpas gerakan PKI pada tahun 1965.

"Yang setuju #NobarG30SPKI lagi, Silahkan retweet rombongan!!," tulis Eko.

Dalam penggalan film G30SPKI itu diceritakan kesulitan yang dihadapi masyarakat, seperti mahalnya beras dan tekanan kepada masyarakat untuk bergabung dalam Gerakan Nasionalisme, Agama dan Komunis (Nasakom) yang digagas Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno.

Penggalan film tersebut pun dibagikan ulang oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik IndonesiaFadli Zon. Lewat status twitternya @fadlizon pada Kamis (13/9/2018), Fadli Zon mendukung agar film G30SPKI dapat diputar ulang setiap tahun.

"Film ini mmg perlu ditonton generasi penerus agar melek sejarah. #NobarG30SPKI," tulis Fadli Zon. (*)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved