Kasus Perdagangan Orang, Lubang Jarum Bobroknya Imigrasi Jadi Celah Pelaku Perdagangan Orang

Gadis berinisial ES (16) jadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Kasus Perdagangan Orang, Lubang Jarum Bobroknya Imigrasi Jadi Celah Pelaku Perdagangan Orang
Warta Kota/Rangga Baskoro
Bareskrim Polri mengungkap kasus perdagangan orang, (13/8/2018). Seorang gadis berusia 16 tahun menjadi korban perdagangan orang. 

WARTA KOTA, GAMBIR---Gadis berinisial ES (16) pingsan saat dipertemukan ibunya setelah tiga minggu sengsara hidup di Malaysia. Bagaimana tidak? Secara tak sadar ia jadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Kisah ES viral di dunia maya dan media massa setelah diduga jadi korban perdagangan orang di Malaysia.

Gadis asal Sukabumi, Jawa Barat, itu sempat terlantar setelah kabur dari majikannya lantaran tak tahan diperlakukan secara tidak manusiawi sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

Baca: Berawal dari Facebook, Seorang Anak Jadi Korban Perdagangan Orang ke Malaysia

Direktorat Tindak Pidana Umum (Ditipidum) Bareskrim Polri langsung menulusuri keberadaan ES.

Berdasarkan hasil investigasi, ES memang benar jadi korban perdagangan manusia yang dilakukan secara terorganisir oleh 7 orang berinisial NL, JS, MI, AS, TM, AS (dpo) dan SH (dpo).

"Awalnya korban ingin bekerja di Jakarta ditawarkan oleh temannya melalui Facebook. Namun ternyata dia malah dibawa ke Malaysia dijadikan sebagai PRT. Dibawa kesana sejak 23 Agustus dan baru pulang tadi malam, langsung kami pertemukan dengan orang tuanya," kata Wakil Direktur Tindak Pidana Umum (Wadirtipidum) Bareskrim Polri Komisaris Besar Panca Putra, Kamis (13/9/2018).

Panca mengatakan, saat tiba di Jakarta dari Sukabumi pada awal Agustus lalu, ES dibuatkan sejumlah dokumen palsu berupa bukti perekaman e-KTP, kartu keluarga (KK) dan akte kelahiran yang semuanya dibuat oleh pelaku berinisial AS.

Baca: Panti Asuhan Jadi Modus Baru Perdagangan Orang

ES yang semestinya belum bisa mengantungi e-KTP diubah umurnya agar memenuhi persyaratan untuk membuat paspor.

"Semua dokumen dibuat sendiri dan dicantumkan beralamat di daerah Jakarta Timur. Korban tidak terdaftar di Dinas Dukcapil setempat karena semuanya palsu," katanya.

Saat tiba di Batam pada 16 Agustus , ia dibuatkan paspor di Kantor Imigrasi Kelas II Bengkalis oleh SH (DPO) yang mengaku sebagai anggota keluarga ES.

Halaman
12
Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved