Pilpres 2019

PDIP: Soal Bajak Membajak Kader, Partai Demokrat Lebih Ganas

Politisi PDI Perjuangan ini juga menyebut partainya tidak pernah mempersoalkan istilah bajak-membajak.

PDIP: Soal Bajak Membajak Kader, Partai Demokrat Lebih Ganas
Tribunnews.com/Dany Permana
Aria Bima 

PDI Perjuangan menyebut Partai Demokrat lebih ganas dalam hal membajak kader partai lain.

Hal ini menanggapi peryataan sejumlah pihak yang menyebut dukungan sejumlah kader Partai Demokrat ke Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin sebagai pembajakan kader.

PDI Perjuangan mencontohkan bagaimana sejumlah kadernya menjadi tim sukses kampanye Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat Pilpres 2009.

Baca: Undian Grup Liga Champions Eropa, Cristiano Ronaldo Bakal Melawan Manchester United

"Kalau PDIP Perjuangan dianggap bajak membajak, berkaca dulu dong. Jangan menepuk air terpercik muka sendiri. Sumatera Barat gubernurnya dulu Gamawan Fauzi, siapa yang mengusung, siapa yang jadikan, sampai siapa yang bayarin kampanye? PDIP Perjuangan. Kemudian jadi timses Pak SBY 2014 (2009)," ungkap Aria Bima, Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, di Rumah Cemara, Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (11/9/2018).

"Terus kemudian Gubernur Jawa Tengah Pak Mardiyanto dua kali jadi gubernur, siapa yang mengusung? PDI Perjuangan. Belum selesai jadi gubernur, dukung Pak SBY," sambung Aria.

Politisi PDI Perjuangan ini juga menyebut partainya tidak pernah mempersoalkan istilah bajak-membajak. Hal itu, lanjut Aria Bima, sebagai kritikan terhadap internal partai.

Baca: Kasus Dugaan Mahar Politik Dihentikan, Andi Arief: Bawaslu Pemalas dan Enggak Serius

"Kader Demokrat itu kebanyakan bajakan dari partai lain. Dalam soal ini, lebih ganas Demokrat itu mengambil partai-partai lain sebenarnya," tutur Aria Bima.

Dari koreksi internal partai, PDIP, lanjut Aria Bima, mampu menghasilkan kader-kader yang berkualitas.

"Tapi itu (kader yang pindah) justru yang kami pakai mengoreksi partai, bukan mencaci maki partai lain. Akhirnya muncul lah seorang Jokowi, muncul lah seorang Risma, muncul lah Hasto di Kulonprogo, munculah Azwar Anas. Banyak kader partai yang tidak meloncat-loncat pada saat periode kedua SBY," papar Aria Bima.

Sebelumnya dikabarkan, Gubernur NTB TGH Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB), mantan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, dan Gubernur Papua Lukas Enembe yang merupakan kader Partai Demokrat, mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. (Fransiskus Adhiyuda)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help