APCASI Bidik Peluang untuk Meningkatkan Ekspor di Tengah Menguatnya US Dollar

Dalam proses menentukan pajak cangkang sawit sebesar 17 USD sudah tidak logis dan relevan.

APCASI Bidik Peluang untuk Meningkatkan Ekspor di Tengah Menguatnya US Dollar
Hardy Palm Tree Farm
Ilustrasi perkebunan sawit. 

ASOSIASI Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia  (APCASI), sejak dulu, sudah melakukan inovasi untuk melakukan ekspor dari limbah pabrik CPO yang tidak tergunakan, khususnya limbah pabrik di daerah2 yang jauh dari pusat-pusat Industri, yaitu cangkang sawit (Palm Kernel Shell).

Perkembangan ekspor cangkang sawit sebagai sumber bioenergi kini telah dikenal sebagai Biomasa yang mulai sangat diminati dan dibutuhkan di pasar ASIA, khususnya Jepang dan Thailand. Kebutuhan di dalam negeri sendiri hanya 40-50% dan itu hanya terbatas untuk industri CPO nya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan industri lain masih sangat minim karena biaya logistik yang sangat tinggi.

Sehingga, pasar ekspor merupakan peluang sangat baik untuk komoditi cangkang sawit tersebut, khususnya dari sumber-sumber yang berada di daerah2 perifer.

Hingga tahun 2017, volume eskpor cangkang sawit telah mencapai 1,8 juta ton dengan nilai devisa 138,6 juta USD.

"Ini pun sangat tidak maksimal ekspor dilakukan karena banyak cangkang sawit di remote2 area, secara logistik tidak komersil untuk diekspor karena tingginya biaya pajak dan pungutan sawit hingga total menjadi 17 USD per MT" kata Dikki Akhmar, Ketua Umum Apcasi di Jakarta, Senin (10/9/2018).

Hampir 30 % cangkang sawit di beberapa daerah tidak bisa ter ekspor atau digunakan dalam negeri, sehingga hanya menjadi limbah yang tidak produktif.

"Situasi negara kita, di mana dollar begitu kuat dan diprediksi akan terus bertahan cukup panjang, sebaiknya dimanfaatkan dengan menangkap peluang ekspor cangkang sawit menjadi lebih besar, sehingga 30% cangkang sawit yang tidak terserap ini, dapat dimanfaatkan untuk ekspor," katanya.

Hal ini dapat dilakukan apabila pemerintah dapat memotong tingginya biaya ekspor, dengan menurunkan pajak ekspor yang terlalu tinggi 17 USD, sementara cangkang sawit sudah mempunyai harga standar Internasional yang diterbitkan oleh Argus Media International Corp.

Sama seperti halnya batubara, sehingga tidak bisa kita menentukan harga sendiri.

"Kalau melihat dari penetapan kebijakan pertama kali pada tahun 2015, proses menentukan pajak cangkang sawit sebesar 17 USD sudah tidak logis dan relevan, jadi sebaiknya kesalahan pemerintah harus segera diperbaiki," katanya.

Menurut Dikki, apalagi momentum kekuatan dollar terhadap rupiah begitu tinggi.

"Kami yakin bahwa para pengusaha yang tergabung dalam APCASI, apabila pajak ekspor diturunkan menjadi 3 USD dan pungutan sawit juga hanya 3 USD, sehingga total biaya ekspor 6 USD, volume ekspor dapat kami tingkatkan menjadi 2,5 - 3 juta ton per tahun atau meningkatkan devisa negara menjadi sekitar 231 juta USD," katanya.

Meskipun kalau diukur dari nilai pendapatan negara bukan, nilai tersebut mungkin masih belum seimbang dengan pendapatan devisa pada saat 17 jt USD, akan tetapi nilai intangible, seperti peningkatan penggunaan energi ramah lingkungan dan berkurangnya penanganan limbah yang tidak produktif.

Serta ada peningkatan ekonomi masyarakat di daerah terpencil karena peningkatkan volume ekspor memberikan efek domino pada ekonomi masyarkat daerah perifer secara signifikan (seperti trucking, tenaga buruh pelabuhan, tenaga kerja, dan sebagainya).

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved