Kurang Terawat, Rambu di Pelican Crossing Sering Ngadat

Pejalan kaki mengeluhkan tombol lampu penyeberangan pelican crossing di jalan protokol yang mulai sering ngadat.

Kurang Terawat, Rambu di Pelican Crossing Sering Ngadat
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Pelican crossing di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat tidak optimal fungsinya. 

"Kalau naik JPO, capek naiknya. Kalau pelican crossing, kan enak tinggal nyeberang. Apalagi, lebih aman ada petugasnya," tutur seorang pejalan kaki, Wisnu (35) di Jalan Thamrin.

Pelican crossing itu, menurut Wisnu juga akan sangat membantu lantaran letaknya itu berada didekat pintu keluar-masuk proyek Mass Rapid Transit (MRT) yang berada di bawah Jalan MH Thamrin.

"Kalau MRT jadi, fungsi pelican crossing lebih kelihatan," katanya

Kondisi pelican crossing nyaman, juga terlihat di Jalan Merdeka Selatan yang bisa sebarangi pejalan kaki ke Gedung Balai Kota DKI dengan IRTI (Ikatan Restoran dan Taman Indonesia) di Monumen Nasional (Monas). Di tempat ini pun pelican crossing tampak teduh dengan adanya pohon rimbun di tengah jalan.

Pelican Crossing ini jauh lebih nyaman. Lampu indikatornya berwarna terang dan juga disertai alarm peringatan terdengar nyaring serta garis zebra cross yang mengkilat.

Sementara itu Ketua Dewan Transportasi Kota, Azas Tigor Nanginggolan sebut sambut baik di dalam upaya Pemerintah DKI Jakarta gantikan JPO menjadi Pelican Crossing. Dinilainya Tigor jika kebijakan didalam mengutamakan Pelican Crossing ini sangat tepat.

"JPO enggak berfungsi. Yah bagus diganti saja ya. Kalau, perlu semua JPO halte ganti Pelican Crossing saja. Tetapi, melihat pelican crossing yang ada, perlu sedikit perbaikkan yang tujuan untuk dapat jaga keamanan, dan keselamatan masyarakat," jelasnya.

"Fasilitas yang ada harus diperbaiki termasuk memberikan garis getar serta marka sebelum kendaraan melintas ke Pelican Crossing. Tidak hanya itu juga termasuk di pemasangan CCTV (Closed Circuit of Television). Cara ini, berikan rasa aman kepada pejalan kaki. Sebab, selama ini di beberapa JPO itu jarang terpasang CCTV khususnya Pelican Crossing. Sehingga, tingkat kriminalitas berkurang," paparnya kembali.

Tak masuk akal

Sementara Nirwono Joga, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti menilai kalau kebijakan Anies dalam penggantian JPO jadi pelican crossing, ialah hal yang sangat tidak masuk diakal

"Namanya hal yang sangat ngaco (Ganti JPO ke pelican crossing). Tindakan itu tanpa didasari adanya sebuah kajian yang matang ya terlebih dahulu. Itu spontan kebijakannya tidak ada dasar pertimbangan apapun atau di kajian yang telah dilakukan sebelumnya," ungkapnya.

Nirwono menilai pengganti JPO menimbulkan permasalahan baru berupa penumpukan kendaraan sehingga dinilai dapat mengganggu arus lalu lintas karena pejalan kaki yang melintas.

"Belum lagi persoalan lainnya, pejalan kaki pun bisa juga jadj banyak mengantri. Kelancaran di arus lalu lintas di jalan bisa terganggu," ujarnya kembali.

Upaya perbaikan

Sementara, Kadishubtrans DKI Jakarta, Andri Yansyah mengatakan pihaknya tetap akan berupaya menggantikan JPO menjadi pelican crossing.

Namun demikian, Andry masih menginventaris serta menganalisis dampak penghapusan JPO.

"Pembangunan pelican crossing sangat bantu dalam upaya untuk Jakarta sebagai kota yang aman dan nyaman untuk pejalan kaki. Pelican ossing, warga itu kan tidak perlu berjalan jauh, menaiki anak tangga untuk menyebrang. Naah ini yang kami inginkan. Warga merasa sangat nyaman.

Mengenai pelican crossing yang fasilitas saat ini bermasalah, Andri berjanji akan melakukan pembenahan.

Andri pun segera menempatkan beberapa petugas untuk melakukan penjagaan dan membantu pejalan kaki yang menyeberang.

Penulis: Panji Baskhara Ramadhan
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved