Polisi Ungkap Praktik Mafia Tanah, Mengaku Pemilik Lahan Samsat Jakarta Timur

Subdit II Harta Benda Ditreskrimum Polda Metro Jaya mengungkap tindak kejahatan kasus mafia tanah di Jakarta Timur dan Bekasi.

Polisi Ungkap Praktik Mafia Tanah, Mengaku Pemilik Lahan Samsat Jakarta Timur
Antara
Contoh sertifikat tanah 

WARTA KOTA, SEMANGGI---Subdit II Harta Benda Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya mengungkap tindak kejahatan kasus mafia tanah di Jakarta Timur dan Bekasi.

Praktik haram ini melibatkan pejabat daerah seperti camat, sekretaris desa, kepala desa, kepala dusun, dan staf pemerintahan dengan jumlah tersangka 19 orang dengan rincian di Jakarta delapan orang dan Kabupaten Bekasi 11 orang.

Baca: BPN Seharusnya Bebas Mafia Tanah dengan Mewujudkan Nawacita

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Ade Ary mengatakan, salah satu kasus yang dilakukan pelaku mafia tanah yakni menggunakan surat palsu untuk menggugat Pemprov DKI Jakarta untuk mendapatkan ganti rugi tanah Samsat Jakarta Timur di Jalan DI Panjaitan.

Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki asal mula surat tanah palsu atas lahan Samsat Jakarta Timur.

Surat tanah itu palsu itu, bahkan sempat menjadi bukti pada gugatan komplotan mafia tanah tahun 2014 dalam sengketa lahan tersebut.

Baca: Diduga Ada Praktik Mafia Tanah di Pembebasan Lahan Waduk Pondok Ranggon III

"Akta jual beli palsu, sama sertifikat palsunya. Palsu semua, sudah kami buktikan palsu. Itu masih kami dalami pembuatnya siapa," kata Ade di Mapolda Metro Jaya, Rabu (5/9/2018).

AKBP Ade mengatakan, untuk mengungkap kasus ini seterang-terangnya, pihaknya juga akan menelusuri asal mula surat palsu tersebut ke berbagai pihak, termasuk pengadilan negeri yang telah meloloskan surat tersebut.

"Kami akan kembangkan untuk tahu siapa yang terlibat," kata dia.

AKBP Ade menambahkan, pihaknya juga tengah menelusuri keterlibatan para mafia tanah itu dalam kasus lain.

Pasalnya ia menemukan sejumlah KTP palsu atas nama tersangka Sudarto.

Baca: Ahok: Sodetan Kali Ciliwung Terkendala Mafia Tanah

Sudarto dan tujuh tersangka lainnya ditangkap karena telah memalsukan surat tanah gedung Samsat Jakarta Timur yang terletak di Jalan DI Panjaitan hingga memenangkan gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dan menuntut ganti rugi sebesar Rp 340 miliar.

Padahal tanah seluas 29.040 meter persegi dengan nilai aset Rp 900 miliar tersebut telah tercatat sebagai aset Pemprov DKI Jakarta sejak April tahun 1985.

Dalam kasus itu, Sudarto bertindak sebagai inisiator yang merekrut tujuh tersangka lainnya untuk mengaku sebagai ahli waris ayahnya yang bernama Ukar yang seolah-olah memiliki hak milik atas tanah tersebut.

Tujuh tersangka tersebut, kata AKBP Ade, mengakui sang ayah tak pernah memiliki tanah tersebut.

Tujuh tersangka tersebut tergiur dengan janji Sudarto memberikan bagian 25 persen dari total ganti rugi yang dibayarkan Pemprov DKI.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved