Christine Hakim Pernah Buat Film Dokumenter tentang Anak-anak Autis

Christine Hakim pernah membuat film dokumenter yang mengangkat kisah kehidupan anak-anak autis atau berkebutuhan khusus.

Christine Hakim Pernah Buat Film Dokumenter tentang Anak-anak Autis
Istimewa
CHRISTINE Hakim 

AKTRIS gaek Christine Hakim (61) mengaku pernah membuat sebuah film dokumente di tengah kesibukannya membintangi beberapa peran di film layar lebar.

Saat itu ia membuat film dokumenter yang mengangkat kisah kehidupan anak-anak autis atau berkebutuhan khusus.

"Saya pernah buat dokumenter tentang anak autis. Jadi saya ingin angkat bagaimana sulitnya orangtua yang memiliki anak autis atau berkebutuhan khusus," kata Christine Hakim ketika ditemui dalam eksklusif interview Film 'Dancing In The Rain', di kawasan Lewis & Carrol Senayan City, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (5/9/2018).

Tentu membuat film dokumenter tentang kisah anak berkebutuhan khusus, Christine Hakim memiliki sebuah alasan yang merujuk pada wawasan dan edukasi mengenai mendidik anak autis.

CHRISTINE Hakim
CHRISTINE Hakim (Istimewa)

"Memang orangtua itu sulit yah untuk membesarkan anak yang berkebutuhan khusus. Bagaimana judgement dari masyarakat yang bisa memberatkan kluarga, membesarkan anak yang memiliki kebutuhan khusus saja udah berat, ditambah masyarakat yang mungkin kurang memahami," ucapnya.

Karena memiliki wawasan tentang anak berkebutuhan khusus, Christine Hakim tidak pikir panjang ketika menerima tawaran dari Screenplay Pictures, untuk film 'Dancing In The Rain'.

Di mana film 'Dancing In The Rain' mengisahkan tentang Banyu, yang mengidap penyakit spektrum autis dan hanya hidup bersama neneknya, yang bernama Eyang Uti diperankan Christine Hakim.

"Saat membaca ceritanya saya langsung bisa masuk ke dalam permasalahan di film ini karena saya sudah mendapatkan informasi. Saya sudah berdialog dengan kluarga dan anak kebutuhan khusus," jelasnya.

"Jadi saya tidak terlalu banyak research terlalu panjang. Justru di sini yang dibutuhkan adalah membangun chemistry dengan yang lain. Karena Eyang punya peranan yang besar di dalam persahabatan ketiga anak ini," tambahnya.

Lanjut Christine, meski sudah punya pengalaman menghadapi anak berkebutuhan khusus, ia mengaku masih kesulitan, karena harus menerima kenyataan cucunya sendiri mengidap spektrum autis.

"Sulit sih sulit. Mungkin saya tidak mulai dr 0 untuk research. Walaupun dalam film itu Awalnya ga tau dan shock mengetahui anak ini ternyata autis, tapi pengalaman buat dokumenter waktu itu jadi sangat membantu," ujar Christine Hakim

Penulis: Arie Puji Waluyo
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help