Bentrok Dua Geng Pelajar Akibat Euforia Kelulusan

Kombes Indra menyebut, para pelaku yang kemudian ditangkap sebelumnya diduga menenggak minuman keras.

Bentrok Dua Geng Pelajar Akibat Euforia Kelulusan
WARTA KOTA/FERYANTO HADI
Polisi menemukan fakta baru meninggalnya AH (15), seorang pelajar SMK Muhammadiyah 15 Jakarta Selatan dalam tawuran dengan sekelompok siswa dari SMAN 32 Jakarta Selatan, di Jalan R Soepeno, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (1/9/2018) lalu. 

KAPOLRES Metro Jakarta Selatan, Kombes Indra Jafar mengungkapkan, kasus tawuran yang berujung pada pengeroyokan terhadap AH (15) hingga tewas di Depan Belleza Jalan Jenderal Soepeno, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu berawal dari euforia kelulusan sekolah.

Tawuran berawal ketika dua geng pelajar, geng Sparatiz (SMAN 32) dan geng Redlebbels (SMK Muhammadiyah 15) sepakat bertemu di Jalan R Soepeno, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan untuk bentrok. Kesepakatan itu dilakukan melalui media sosial Instagram.

Kombes Indra Jafar mengatakan, kasus tersebut berawal dari senior para pelaku, yakni IA yang mengajak adik-adik juniornya melakukan tawuran dengan kelompok korban.

Adapun IA, sudah berkomunikasi dan janjian dengan kelompok korban melalui media sosial Instagram serta WhatsApp untuk melalukan aksi tawuran di suatu tempat yang telah ditentukan.

"Motifnya si IA ini kan baru lulus SMA, jadi dia masih euforia, berhubung dia punya kelompok tertentu, namanya Gank Sparatiz, lalu dia ajaklah juniornya itu dan saat bertemu musuhnya yang melakukan keributan itu," ujarnya di Mapolrestro Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018).

Kombes Indra menyebut, para pelaku yang kemudian ditangkap sebelumnya diduga menenggak minuman keras.

"Saat pertama kali diamankan itu, mereka juga awalnya bau miras, kemungkinan sebelum tawuran itu mereka meminum miras. Asal usul clurit masih kami dalami darimananya," tuturnya.

IA yang menjadi provokator, saat ini masih buron. Sementara, saat ini polisi sudah menetapkan sebanyak 10 tersangka yang juga satu sekolahan dengan IA

Para pelaku dijerat dengan Pasal 76C juncto Pasal 80 Ayat 3 UU RI Nomor 35/2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak junto Pasal 338 KUHP juncto Pasal 170 KUHP dengan ancaman lima tahun penjara, sedang satu anak dewasa berinisial F (19) dikenakan hukuman 15 tahun penjara.

Terkait IA yang masih buron, kata dia, polisi pun mengultimatum agar segera menyerahkan diri ke polisi sebelum ditangkap. Bila IA sudah tertangkap, polisi pun akan kembali menggali siapa lagi orang yang terlibat dalam pemgeroyokan AH.

"Sebagai antisipasi, kami akan tingkatkan patroli cyber agar akun-akun yang terindikasi ke arah tawuran itu bisa dicegah. Kami lakukan mapping juga pada anak-anak yang punya kelompok tertentu," katanya.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved