Media Sosial

Tulis Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Bahaya KPK, Fahri Hamzah: Sesungguhnya Kita Sedang Bunuh Diri

Dalam surat tersebut, Fahri Hamzah mengaku kecewa dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi alat politik dan berpolitik.

Tulis Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Bahaya KPK, Fahri Hamzah: Sesungguhnya Kita Sedang Bunuh Diri
ISTIMEWA
Fahri Hamzah satu meja dengan Presiden Jokowi, saat buka puasa bersama di rumah dinas Ketua DPR Bambang Soesatyo, Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Senin, (28/5/2018). 

Siapa yang menyerang Novel? Mengapa bapak tidak memberi jawaban? Siapa yang berperan dan siapa yang menjadi dalang? Entahlah, tapi Sadarkah bapak presiden. Bahwa semua ini adalah sumber ketidakpastian? Sadarkah bapak bahwa kita mengirim sinyal kekacauan kepada dunia ?

Sementara itu, DPR mengajukan evaluasi. Lalu kita kembali mengadakan rapat konsultasi. Ada 3 kali setahu saya. Khusus untuk membahas masa depan Kepastian hukum. Waktu itu revisi UU KPK hampir disepakati tetapi selalu dibatalkan diujung. #KursKepastian

Habis sudah upaya DPR untuk mengingatkan bapak bahwa sebagai lembaga pengawas tertinggi di negeri ini, DPR menemukan sesuatu yang harus kita baca. Melalui pansus Angket KPK hampir saja semua terbuka tapi akhirnya semua dihentikan. Tergesa-gesa dan Entah oleh apa.

Dalam pansus Angker KPK semua hampir terbuka. DPR hampir saja menemukan segala sumber masalah dan segala sumber ketidakpastian hukum yang dibuat KPK. Tapi rupanya, KPK punya mekanisme Melawan balik. Semua terkena. Dan semua kembali ke semula. #KursKepastian

Maka, semua keinginan DPR untuk mengingatkan presiden dari masa ke masa terus mendapat hambatan KPK. Revisi UU KPK agar bisa diawasi, pansus angket KPK, audit oleh BPK semua ditahan atas ancaman dan ketidaksetujuan KPK. #KursKepastian

Itu juga nasib RUU KUHP peninggalan Belanda itu. DPR telah menyelesaikan pekerjaannya awal tahun ini dan tinggal pengesahan. KPK lagi yang tidak mau lalu presiden pun menolak meneruskan pembahasan. Dan kita berhenti sampai di sini. Ketidakpastian terus menjadi-jadi.

Bapak presiden yth,
Apakah bapak melihat apa yang saya lihat? Terutama sekarang setelah kurs rupiah terhadap dolar mulai menyentuh angka berbahaya. Apakah bapak tidak merasa seperti mendirikan benang basah? Apakah bapak siap jika krisis datang lagi?
#KursKepastian

Oh ya, saya ingat dalam satu rapat konsultasi yang akhir ya batal menyepakati revisi UU KPK karena tekanan forum rektor dan pimpinan KPK mengancam mundur. Saya berbisik lagi kepada bapak, “pak, saya khawatir ekonomi kena serang, tolong pelajari Korea selatan”.

Waktu itu, saya mempelajari sebab2 pembubaran KICAC, semacam lembaga mirip KPK di Korea selatan. Korea Selatan ini mirip sekali dengan kita dalam sejarah pemberantasan korupsi dan kemerdekaan. Pembubaran KPK Korsel karena tuntutan ketidakpastian kepada ekonomi.

Itulah yang terjadi di kita sekarang, kita terima atau tidak. Survey pasar kalau ditanya maka, “kepastian hukum” adalah sumber keraguan yang utama di negeri ini. Bagaimana menaruh uang atau datang ke negara yang hukum tidak nampak pasti?
#KursKepastian

Halaman
1234
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved