Rupiah Melemah, Perajin Tempe Galau

Lelaki berusia 35 tahun ini pun semakin risau, lantaran daya beli masyarakat terhadap tempe juga terbilang menurun.

Rupiah Melemah, Perajin Tempe Galau
WARTA KOTA/ANDIKA PANDUWINATA
Perajin tempe di Pasar Sepatan, Kabupaten Tangerang. 

PERAJIN tempe di Tangerang panik. Sebab, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpuruk.

Jefri (35), perajin tempe di Pasar Sepatan, Kabupaten Tangerang, mengungkapkan kegalauan terhadap naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini.

“Dikhawatirkan menguatnya dolar akan menjadi faktor penghambat berproduksi. Sebab, bahan baku kacang kedelai yang kami gunakan masih impor, yang harganya bergantung pada nilai tukar dollar," ujar Jefri kepada Warta Kota, Rabu (5/9/2018).

Baca: Kawal Proyek PLTU Riau-1, Eni Maulani Saragih Mengaku Diperintah oleh Ketua Umum Partai Golkar

"Dan kalau nilai tukar rupiah terus melemah, bisa dibayangkan akan terjadi kenaikan pada bahan baku kedelai, yang berakibat menambah beban permodalan,” sambungnya.

Lelaki berusia 35 tahun ini pun semakin risau, lantaran daya beli masyarakat terhadap tempe juga terbilang menurun.

“Biasanya kalau kacang naik, imbasnya kami sangat merasakan sendiri. Ketika kami menyiasati dengan menaikkan harga jual atau mengurangi volume tempe, maka ketika itu juga daya beli masyarakat menurun terhadap tempe, yang berujung pada tidak terserapnya jumlah produksi hingga mengalami kerugian,” papar Jefri.

Perajin tempe di Pasar Sepatan, Kabupaten Tangerang.
Perajin tempe di Pasar Sepatan, Kabupaten Tangerang. (WARTA KOTA/ANDIKA PANDUWINATA)

Terhadap nilai jual tempe dan harga bahan baku yang digunakan, Jefri mengungkapkan untuk saat ini masih menggunakan stok kedelai yang berharga lama, yakni Rp 7.500 per kilogram, dengan nilai jual tempe seberat 600 gram dihargai Rp 6.000.

"Sedangkan tempe dengan berat 700 gram dijual dengan harga Rp 7.000. Dengan harga jual tempe saat ini sudah menurunkan daya beli masyarakat, bagaimana kalau harga tempenya dinaikkan, bisa semakin turun daya beli masyarakat,” tuturnya dilanda kegalauan.

Hal senada diungkapkan oleh perajin tempe lainnya, yaitu Alban (38). Guna menjaga keberlangsungan usaha yang sudah dijalankan turun-temurun tersebut, Alban bersama para perajin tempe hanya bisa berharap kepedulian pemerintah menjaga stabilitas harga kedelai.

“Semoga pemerintah bisa mengambil kebijakan yang bisa memberikan solusi terhadap keberlangsungan para perajin tempe yang masih bergantung pada bahan baku kedelai impor,” harap Alban. (*)

Penulis: Andika Panduwinata
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved