Dolar Terus Naik, Pengusaha Tahu Tempe Ketar-ketir

Pengusaha tahu tempe mulai ketar ketir menghadapi kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

Dolar Terus Naik, Pengusaha Tahu Tempe Ketar-ketir
Andika Panduwinata
Salah satu lokasi pembuatan tempe-tahu di Komplek Perumahan Industri Kecil (PIK) Koperasi Tahu Tempe (KOPTI) Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (13/3/2015). 

TINGGINYA nilai dolar AS terhadap mata uang rupiah bisa berdampak ke berbagai sektor ekonomi, tanpa kecuali bidang usaha skala kecil-menengah yang masih mengandalkan bahan baku impor.

Usaha pembuatan tahu-tempe salah satunya, dimana kedelai sebagai bahan baku utama hingga kini masih tergantung pasokan dari luar negeri.

Suyanto selaku Ketua II Bidang Organisasi dan Hubungan Daerah Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (GAKOPINDO) mengungkapkan, saat ini hampir 100 persen kedelai yang beredar di pasaran dan digunakan pelaku usaha tahu-tempe adalah produk impor.

Maka, dengan naiknya nilai dolar menurutkan akan sangat berimbas pada harga kedelai. Ujungnya, para pelaku usaha tahu-tempe yang bakal menjerit seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.

"Kalau dolar terus-menerus naik pasti akan berpengaruh, sebab kedelai yang digunakan hampir 100 persen impor dari Amerika," ujar Suyanto kepada Warta Kota, Rabu (5/9/2018).

Meski demikian, Suyanto mengatakan saat ini kenaikan harga kedelai masih wajar.

"Untuk harga bervariasi tergantung merek dan kualitas. Yang standar Rp 7.900 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 7.700. Ada yang lebih tinggi lagi kalau kualitasnya bagus," imbuhnya.

Ia menambahkan, beberapa hari ini para pengurus Asosiasi, termasuk dari daerah, melakukan pertemuan.

Salah satu isu yang diangkat yakni soal pergerakan meningkatnya nilai dolar yang makin mengkuatirkan.

"Meski sekarang harga kedelai belum naik signifikan, namun kita harus tetap waspadai. Sebab, kemungkinan stok kedelai saat ini masih stok lama dan harga lama. Ini masih wait and see saja sekarang," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved