M Taufik segera Gugat Lagi Jika Pencalegan Dibatalkan KPU karena Alasan Ini

Dalam UU Pemilu, keputusan Bawaslu itu wajib dilaksanakan oleh KPU, sehingga jadi alasannya menggugat lagi.

M Taufik segera Gugat Lagi Jika Pencalegan Dibatalkan KPU karena Alasan Ini
Kompas.com
M Taufik menggugat pembatalan dia jadi bacaleg oleh KPU. 

PIHAK Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta Mohamad (M) Taufik mengatakan Komisi Pemilihan Umum ( KPU) DKI harus menaati putusan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Jika tidak, M Taufik menyatakan, dia akan menggugat KPU lagi.

"Dalam UU Pemilu, keputusan Bawaslu itu wajib dilaksanakan oleh KPU. Kalau enggak melaksanakan, ya kita gugat lagi ke perdata ke DKPP, terus saja kita gugat," ujar M Taufik di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Senin (3/9/2018).

M Taufik menjelaskan, alasannya menggugat KPU DKI ke Bawaslu DKI karena namanya tidak dimasukkan ke dalam daftar calon sementara (DCS) oleh KPU DKI.

Dia juga mengajukan judicial review ke Mahkamah Agung untuk menggugat PKPU Nomor 20 Tahun 2018.

Dia merasa, proses yang dia lalui itu sudah benar.

M Taufik pun mengapresiasi Bawaslu DKI yang meloloskan gugatannya.

Menurut dia, Bawaslu DKI berani berpedoman pada Undang-Undang Pemilu.

"Saya mengapresiasi kerja Bawaslu yang tidak takut tekanan. Dia berpedoman dengan UU dan saya memang dari awal meyakini bahwa PKPU itu bertentangan dengan UU. Sesuatu yang bertentangan mestinya tidak boleh terjadi," kata M Taufik.

Sebelumnya, Taufik dianggap tidak memenuhi syarat sebagai caleg karena berdasarkan Peraturan KPU Nomor 20 Tahun 2018, seorang mantan narapidana kasus korupsi seperti dia tidak dapat mencalonkan diri pada pileg.

Sementara itu, menurut Taufik, PKPU 20 Nomor 20 Tahun 2018 itu bertentangan dengan UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

UU tersebut menyatakan, seorang eks narapidana yang telah menjalani masa hukuman selama lima tahun atau lebih boleh mencalonkan diri selama yang bersangkutan mengumumkan pernah berstatus sebagai narapidana kepada publik. (Jessi Carina)

Tautan asal

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved