Pilpres 2019

Gerakan #2019GantiPresiden Tak Miliki Kekuatan Pendobrak yang Luar Biasa

Gerakan ganti Presiden 2019 yang dimotori Neno Warisaman dan Ahmad Dhani tidak memiliki kekuatan pendobrak yang luar biasa.

Gerakan #2019GantiPresiden Tak Miliki Kekuatan Pendobrak yang Luar Biasa
Warta Kota/Adhy Kelana
Musisi Ahmad Dhani tengah menunggu sidang Perdana Kasus Ujaran Kebencian dengan agenda mendengarkan pembacaan dakwaan di PN Jakarta Selatan, Senin (16/4). 

AKADEMISI dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang, MSi mengatakan, gerakan ganti Presiden 2019 yang dimotori Neno Warisaman dan Ahmad Dhani tidak memiliki kekuatan pendobrak yang luar biasa, sehingga tidak perlu terlalu dirisaukan.

"Gerakan ini tidak perlu dirisaukan karena tidak memiliki kekuatan pendobrak yang luar biasa, karena isu tidak terpola dan gerakan ini telah kehilangan tokohnya," kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Sabtu (1/9/2018).

Dia mengemukakan hal itu, terkait maraknya aksi kampanye seputar 2019 ganti presiden, dan dampaknya terhadap konstelasi politik pada Pilpres 2019.

Menurut dia, gerakan ini sudah kehilangan tokohnya. Hanya saja, Prabowo Subianto masih merasa bahwa dirinyalah yang akan tampil sebagai simbol politik Islam.

Padahal, simbol politik yang diinginkan oleh ijmah ulama sesungguhnya adalah figur yang harus berlatar belakang santri, bukan nasionalis seperti Prabowo, kata mantan Pembantu Rektor I UMK itu.

Di sini Prabowo dan Gerindra terjebak oleh asumsinya sendiri, karena hingga saat ini belum ada sikap resmi kelompok alumni 212 untuk mendukung Prabowo.

Boleh jadi kata dia, pernyataan Yusril Ihza Mahendra benar bahwa kekuatan politik Islam akan mendukung Joko Widodo pada Pilpres mendatang, karena calon wapresnya adalah seorang ulama.


Politik Aliran

Dia menambahkan, gerakan #2019GantiPresiden sesungguhnya merupakan agenda kekuatan politik aliran, yang dimotori oleh para habib dan kelompok garis keras sejak Pilkada DKI, dan mendapatkan dukungan secara politik oleh PKS dan Gerindra.

Harapan PKS dan Gerindra kata dia, adalah agar kekuatan politik aliran ini harus dimobilisir untuk kepentingan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

Namun, dalam perjalanan, PKS dan Gerindra yang menjadi motor penggerak, ternyata memiliki agenda berbeda-berbeda, di mana kekuatan politik aliran menghendaki hadirnya ulama sebagai simbol politik umat dalam Pilpres 2019, ternyata bertepuk sebelah tangan.

Kondisi ini disebabkan karena agenda politik Prabowo Subianto justru memilih Sandiago Uno sebagai pendampingnya dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Sementara Joko Widodo yang selama ini selalu diidentikkan dengan kekuatan nasionalis sekuler, justru memilih Ma'ruf Amin sebagai wakilnya.

"Maka pada saat yang sama, kekuatan Prabowo semakin melemah di mata ulama," katanya.

Atas dasar inilah maka, kekuatan politik oposan tetap menjaga semangat gerakan #2019GantiPresiden yang digagas oleh kelompok politik aliran seolah-olah para ulama masih mendukung Prabowo.

Padahal lanjut dia, fakta menunjukkan bahwa, tidak ada ulama yang terlibat jauh dalam gerakan #2019GantiPresiden yang dimotori oleh Neno Warisman dan Ahmad Dhani, katanya menambahkan. (Antara)

Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved