Ada Aksara Asing di Proyek yang Diresmikan Menteri Jokowi, Begini Penjelasan Undang-undang

Keunikan itu terlihat pada banner yang menjadi latar belakang panggung upacara pemancangan tiang pertama proyek Weda Bay.

Ada Aksara Asing di Proyek yang Diresmikan Menteri Jokowi, Begini Penjelasan Undang-undang
Twitter @kemenhub151
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan saat menghadiri acara pemancangan tiang pertama proyek Weda Bay di Tanjung Ulie, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (30/8/2018). 

MENTERI Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan menghadiri pemancangan pertama proyek Weda Bay di Tanjung Ulie, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (30/8/2018).

Kedua menteri Kabinet Kerja tersebut memberikan dukungan melalui pembangunan sejumlah fasilitas transportasi seperti perluasan runway Bandar Udara Weda, dan pengembangan Pelabuhan Weda. Tujuannya demi kelancaran proses ekspor pada kawasan Indonesia WedaBay Industrial Park (IWIP).

"#KawulaModa kemarin (30/8) Menhub @BudiKaryaS mendampingi Menko bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dalam menghadiri acara pemancangan pertama proyek Weda Bay di Halmahera Tengah," tulis akun Twitter resmi Kementerian Perhubungan, Jumat (31/8/2018) pukul 09.43 WIB.

Baca: Prabowo Subianto: Saya Ini Mantan Jenderal yang Takut Suntik dan Dokter

Sekilas tidak ada yang aneh dengan dukungan dan proyek tersebut. Namun, bila dicermati lebih jauh, terdapat keunikan dalam foto yang diunggah. Keunikan itu terlihat pada banner yang menjadi latar belakang panggung upacara pemancangan tiang pertama proyek Weda Bay.

Selain Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, terdapat kalimat yang ditulis dengan aksara Jepang berwarna merah.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, telah mengatur kewajiban tentang penggunaan Bahasa Indonesia.

Baca: Jokowi Pamerkan Hasil Pembangunan, Sandiaga Uno Ingin Suara Emak-emak Didengar

"Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nota kesepahaman atau perjanjian yang melibatkan lembaga negara, instansi pemerintah Republik Indonesia, lembaga swasta Indonesia atau perseorangan warga negara Indonesia." Demikian bunyi pasal 31 Ayat 1 UU Nomor 24 Tahun 2009.

Berdasarkan informasi yang dirangkum Warta Kota dari berbagai sumber, PT Weda Bay Nickel merupakan anak perusahaan Eramet dan Mitsubishi. Eramet sendiri berasal dari Prancis, sedangkan Mitsubishi perusahaan asal Jepang.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam keterangan persnya secara tertulis mengatakan, membuka peluang untuk berinvestasi dalam pengembangan dan pembangunan proyek-proyek infrastruktur transportasi, khususnya di wilayah Halmahera Tengah.

Baca: Panik saat Gempa Susulan 6,2 SR Mengguncang Lombok, Sam Aliano Lari Tanpa Celana

Pada akhir 2017, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa sebuah perusahaan asal Tiongkok, Delong Group, mengincar investasi di Halmahera Tengah. Delong Group disebut akan membeli tambang Nikel dari perusahaan Prancis-Jepang dengan dana USD 5,2 milliar.

Terkait kewajiban penggunaan bahasa dalam perjanjian dengan pihak asingm juga telah diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2009.

"Nota kesepahaman atau perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang melibatkan pihak asing ditulis juga dalam bahasa nasional pihak asing tersebut dan/atau bahasa Inggris." Demikian bunyi pasal 31 Ayat 2 UU Nomor 24 Tahun 2009. (*)

Penulis: Hamdi Putra
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved