Pemerintah Seharusnya Siapkan Stok Jagung untuk Kemarau, Bukan Diekspor

Ironisnya ketika mulai memasuki masa panen raya di kisaran bulan April nanti, harga jagung justru anjlok.

Pemerintah Seharusnya Siapkan Stok Jagung untuk Kemarau, Bukan Diekspor
Istimewa
Jagung 

“Ketika panen raya puncak, harga jagung itu hancur-hancuran. Itu paling cuma Rp2.000—2.200 per kilogram,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (29/8).

Pola yang selalu berulang ini cukup disesalkan karena cenderung tidak mengalami perbaikan dari waktu ke waktu. Pemerintah dianggap menjadi sumber tidak kelar-kelarnya masalah harga jagung yang amat fluktuatif.

“Tantangannya sekarang adalah pengaturan penanaman. Masalahnya pemerintah kita nggak punya konsep yang bagus di situ,” keluh pengusaha ini.

Dengan harga jagung yang sedang demikian tinggi, ia pun heran jika Menteri Pertanian terus menyerukan kebanggaan akan ekspor jagung. Masalahnya di dalam negeri sendiri, sebenarnya kondisi harga tinggi menunjukkan suplai jagung yang minim.

Maksun pun mengakui, bagi pengusaha pakan ternak, suplai jagung dari tahun ke tahun selalu mengakami kekurangan. Dari sisi produsen jagung, kondisi harga tinggi pun akan lebih menarik untuk disebar dalam negeri karena tidak memerlukan berbagai administrasi yang menyulitkan.

“Kalau mau jual ke luar, mau jual ke mana? Di dalam juga kurang kok. Kita pasti jualnya di sinilah, yang gampang. Nggak perlu ini itu. Jadi kalau ada mentan bilang ekspor jagung, ya kita heran juga. Cuma kan dia juga butuh panggung untuk presiden kan,” tuturnya.

Kondisi akan ekspor jagung ini sejatinya sama seperti proyek subsidi benih yang digagas kementerian yang sama. Meskipun disebut-sebut telah ada bantuan hingga Rp2 triliun, nyatanya dari hulu ke hilir masih sulit merasakan dampak dari besarnya bantuan benih tersebut. Ini pula yang membuat para produsen jagung hingga pengusaha pakan ternak bingung dengan kebijakan pemerintah.

“Mereka juga heran katanya ada bantuan benih sampai Rp2 triliun, tapi ke mana hasilnya? Buktinya masih kekurangan pasokan jagung. Ini malah katanya ekspor, kan lucu,” pungkasnya.

Maxdeyul melanjutkan, sejauh ini ada ketidaksingkronan antara daerah produksi jagung dengan daerah-daerah sentra pabrik pakan ternak. Seharusnya, hasil panen langsung dijadikan stok di daerah pabrik, mengingat jauhnya jarak antar daerah sentra produksi pangan ternak, dengan daerah produksi jagung.

"Pada saat harga jagung murah di bawah Rp 3 ribu, harusnya pegang stok, diamankan dulu. Bangun silo dan pengering di daerah sentra jagung. Harusnya pabrik pakan ini aman dari hasil produksi dalam negeri," tuturnya.

Lebih lanjut dia memprediksi, faktor cuaca saat ini akan sangat mempengaruhi produksi jagung. Ia yakin, fakta di lapangan sekarang, tidak mungkin memenuhi kebutuhan melihat daerah-daerah yang ditanam itu ada yang kering.

Editor: ahmad sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help