Pollycarpus Bocorkan Kondisi Kurang Baik Perusahaan Penerbangan Milik Tommy Soeharto Partai Berkarya

POLLYCARPUS Budihari Priyanto membocorkan kondisi sebenarnya perusahaan penerbangan milik Tommy Soeharto.

Pollycarpus Bocorkan Kondisi Kurang Baik Perusahaan Penerbangan Milik Tommy Soeharto Partai Berkarya
kompas.com
Pollycarpus dan Tommy Soeharto 

Saat membicarakan soal itulah sedikit kondisi PT Gatari Air Service milik putra Mahkota keluarga cendana itu bocor oleh Pollycarpus

"Waktu itu saya memang mengajukan aplikasi (ke PT Gatari Air Service). Jadi ya saya lebih senang dengan kondisi perusahaan yang perlu kita berikan mungkin diupgrade atau gimana gitu. Waktu itu saya mengisi waktu dengan kegiatan yang positif seperti posisi saya," kata Pollycarpus.

Dari sepotong petikan wawancara itu kelihatan bahwa PT Gatari Air Service butuh sebuah perubahan dalam perusahaannya. 

Pesangon Belum Dibayar

Terkait kondisi PT Gatari Air Service yang perlu diupgrade juga terlihat dari sesuatu yang sempat ramai pada Februari 2018 lalu. 

Kala itu sempat diberitakan berbagai media online bahwa PT Gatari Air Service didemo para karyawan dan mantan karyawannya karena belum membayar gaji berbulan-bulan dan pesangon. 

Akibatnya puluhan karyawan dan ex karyawan PT Gatari Air Service gelar aksi damai menuntut hak-hak mereka, di Hanggar Gatari, Cibubur, Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Koordinator aksi damai, Iwo Suparwo mengatakan, aksi damai terpaksa dilakukan karena pihak manajemen PT Gatari Air Service, anak perusahaan Humpuss milik Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) tak kunjung menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya kepada karyawan dan ex karyawan.

"Ini keprihatinan kami baik karyawan dan ex karyawan atas hak-hak kami yang sampai sekarang belum diselesaikan oleh PT Gatari Air Service", kata Iwo, ex. Manager HRD PT Gatari Air Service, disela-sela aksi, seperti dilansir radarindonesia.com.

Dalam Aksi Damai tersebut karyawan dan ex karyawan PT Gatari menuntut segera dibayarkannya gaji dan tunjangan karyawan yang selama 7 bulan tidak dibayarkan, dengan nilai total sekitar Rp 5,5 miliar.

Halaman
1234
Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help