2 Polisi Ditembak di Tol Cipali, IPW Minta Mobil Patroli Dilengkapi Alat Deteksi Senjata

Ketua Presidium Indonesian Police Watch Neta S Pane mengusulkan agar mobil patroli polisi dilengkapi alat deteksi senjata.

2 Polisi Ditembak di Tol Cipali, IPW Minta Mobil Patroli Dilengkapi Alat Deteksi Senjata
Kompas.com
Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane. 

KETUA Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai kasus penembakan terhadap dua polisi di Tol Cipali, di Cirebon, Jawa Barat, Jumat (24/8/2018) malam, adalah modus kejahatan baru yang sangat sadis.

Karenanya kata Neta, Polri perlu mengantisipasi modus kejahatan ini agar tidak berulang dan membuat anggota kepolisian rentan menjadi 'mati konyol' saat bertugas.

"Meskipun kedua polisi yang ditembak di Tol Cipali, Jumat malam, hanya luka berat tapi IPW berharap Polri segera menata sistem perlindungan, terhadap anggotanya saat bertugas di lapangan. Melihat kasus penembakan di Tol Cipali ini, sudah saatnya Polri melengkapi mobil patrolinya dengan alat deteksi senjata jarak jauh atau dalam radius tertentu," papar Neta, kepada Warta Kota, Sabtu (25/8/2018).

Saat menemukan pengemudi yang mencurigakan, sebelum melakukan pemeriksaan atau penggeledahan, petugas patroli sudah mengetahui, apakah orang yang dicurigai itu memiliki senjata atau tidak.

"Dengan demikian petugas kepolisian bisa lebih prepare dalam menghadapi situasi dan tidak 'mati konyol' dalam menghadapi penjahat-penjahat yang nekat," kata Neta.

Dari kasus yang ada, tambah Neta, IPW mendata ada tiga kelompok yang sering membunuh polisi di lapangan. "Yakni, penjahat jalanan, bandar narkoba, dan teroris," kata Neta.

"Penjahat jalanan dan bandar narkoba, biasanya membunuh polisi karena dalam kondisi terjepit. Mereka menembak polisi saat digerebek atau saat hendak ditangkap. Belum pernah ada satu kasus pun, penjahat jalanan atau bandar narkoba serta merta tanpa alasan yang jelas menembak atau membunuh polisi," tambah dia.

Karenanya Neta menduga pelaku penembakan adalah teroris.

"Kasus penembakan yang serta merta tanpa alasan jelas hanya dilakukan para teroris terhadap anggota kepolisian," katanya.

Kasus terakhir menurut Neta terjadi di Jember tahun lalu. Selain itu, katanya beberapa kali polisi yang sedang bertugas diserang teroris dengan serangan bom bunuh diri.

"Jadi, melihat serangan di Tol Cipali patut diduga, pelakunya adalah teroris. Sepertinya, mereka sengaja berdiri di pinggir tol agar polisi patroli datang, kemudian mereka menembaknya di bagian vital yang mematikan," katanya.

Jika dikaitkan dengan travel warning Australia pekan lalu, kata Neta, sepertinya kasus penembakan di Tol Cipali ini sebuah sinyal peringatan akan adanya serangan berikutnya.

"Untuk itu Polri perlu mengantisipasi jaringan teroris pasca serangan di Tol Cipali," katanya.

Menurut Neta, Polri tidak boleh lengah mengingat banyaknya orang asing yang mengikuti Asian Games kali ini.

"Karena itu, sudah saatnya Polri melengkapi mobil patrolinya dengan detektor senjata jarak jauh agar petugasnya di lapangan bisa lebih terlindungi saat bertugas," ujarnya.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved