PT SSS Jadi Produsen Garam Pertama di Pantai Selatan

Calvin Lutvi mengaku prihatin, Indonesia dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia namun sejauh ini masih begitu banyak mengimpor garam

PT SSS Jadi Produsen Garam Pertama di Pantai Selatan
Warta Kota/Feryanto Hadi
Petani garam saat mengeringkan garam. 

PT Saltindo Samudera Selatan (SSS) menjadi perusahaan pertama yang menjalankan bisnis produksi garam di pantai selatan. Lahan seluas lima hektar di Desa Buniasih, Kecamatan Tegal Buleut, Sukabumi, kini jadi hamparan tambak garam dengan tingkat produksi yang cukup tinggi.

Wiratama Adhitya Selaku Direktur Utama PT Saltindo Samudera Selatan mengatakan, selama ini, belum ada satu pun pengusaha maupun masyarakat yang memanfaatkan lahan di pantai selatan Jawa untuk memproduksi garam.

Petani garam saat mengeringkan garam.
Petani garam saat mengeringkan garam. (Warta Kota/Feryanto Hadi)

"Produksi garam lebih banyak di pantai utara Jawa, Madura, NTB dan NTT. Sementara, banyak orang yang pesimis membuat tambak garam di pantai selatan tidak akan berhasil, dikarenakan faktor alam. Itu justru menjadi tantangan bagi kami menjadi pionir usaha produksi garam di pantai selatan Jawa," ungkapnya kepada Warta Kota di Darmawangsa Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (21/8/2018).

Wira mengatakan, perusahaannya telah menjawab segala tantangan itu dalam masa ujicoba produksi garam di sana, dimana garam yang dihasilkan memiliki kualitas premium dengan jumlah produksi sesuai target.

"Saat ini kami mengolah lahan lima hektar dengan hasil 250 ton per bulan dengan sistem prisma garam. Ini jumlah yang sangat baik tentunya sekaligus membuktikan di pantai selatan industri garam juga bisa berjalan," ungkapnya.

Metode prisma garam adalah modifikasi dari sistem greenhouse untuk kepentingan evaporasi air laut menjadi kristal garam dengan memanfaatkan angin dan humiditas udara.

Melihat hasil yang baik ini, ke depan, imbuh Wira, pihaknya akan memperluas area tambak dengan memanfaatkan lahan seluas 145 hektar di lokasi tersebut.

"Tidak kalah pentingnya kami menciptakan lapangan kerja dengan memberdayakan masyarakat sekitar menjadi karyawan. Mereka selama ini hanya menggantungkan hidup dari bekerja sebagai nelayan dan petani tahunan," ungkapnya.

Calvin Lutvi selaku Komisaris PT Saltindo Samudera Selatan mengungkapkan, bisnis garam yang dilakukan pihaknya sekaligus untuk mendorong produksi garam nasional yang saat ini masih cukup rendah.

Calvin Lutvi mengaku prihatin, Indonesia dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia namun sejauh ini masih begitu banyak mengimpor garam khususnya untuk kebutuhan industri.

"Kebutuhan garam secara nasional pada 2018 ini mencapai 3,7 juta ton. Sementara produksi garam nasional hanya 1,2 juta ton. Selebihnya dipenuhi dengan impor. Kami ingin ikut berkontribusi menutupi kekurangan garam dalam negeri," kata Calvin yang juga Managing Director Star Pacific Capital Singapore, Perusahaan Investment dan Strategic Partnership yang berdomisili di Singapura.

Calvin menambahkan, untuk tahap awal, perusahaanya mensuplai garam untuk industri seperti penyamakan kulit dan farmasi juga untuk kebutuhan masyarakat.

"Produk garam terbesar diserap oleh industri dengan persentase 68 persen. Ada sekitar 14.000 jenis produk industri yang memerlukan bahan baku garam baik secara langsung maupun tidak langsung."

"Selebihnya, garam digunakan untuk pertanian, peternakan, pembersih air dan bahkan di negeri dingin juga digunakan untuk mencairkan es di jalan-jalan raya," imbuh Calvin

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help