MUI Bolehkan Penggunaan Vaksin MR yang Haram, karena Bahaya Jika Imunisasi Tidak Dilakukan

Meski begitu, MUI mengimbau pemerintah dan produsen vaksin mengupayakan penyediaan vaksin alternatif yang berbahan halal.

MUI Bolehkan Penggunaan Vaksin MR yang Haram, karena Bahaya Jika Imunisasi Tidak Dilakukan
Istimewa
Vaksin Rubella 

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) menyatakan vaksin Measles Rubella (MR) dari India haram, karena mengandung bahan babi, tapi boleh digunakan untuk imunisasi, karena kondisi mendesak dan berbahaya jika tidak diberikan.

"Untuk kondisi saat ini, dari info MUI yang memenuhi standar kredibilitas, kondisinya sangat mendesak, makanya penggunaan vaksin MR dibolehkan karena memenuhi unsur keterpaksaan secara fikihnya, dan tidak ada vaksin produk lain yang halal dan suci," jelas Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh, saat ditemui di Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jakarta, Selasa (21/8/2018).

Niam menjelaskan, Komisi Fatwa MUI telah mengadakan rapat pleno bersama Dirjen P2P Kemenkes, IDAI, Biofarma, dan sejumlah pihak lainnya, untuk membahas urgensi imunisasi MR dan dampak yang dapat terjadi bila tidak dilaksanakan.

Baca: Meski Mengandung Babi dan Organ Manusia, 85 Persen Anak di Jakarta Barat Sudah Divaksin MR

"Ada info dari para ahli yang kompeten dan kredibel bahwa kondisinya sekarang kalau tidak divaksin akan menimbulkan bahaya. Lalu memang belum ada alternatif lain vaksin yang halal dan suci," tuturnya.

Meski begitu, MUI mengimbau pemerintah dan produsen vaksin mengupayakan penyediaan vaksin alternatif yang berbahan halal.

"Kita merekomendasikan pemerintah untuk terus berikhtiar penyediaan vaksin halal. Saya juga mendorong pelaku usaha, akademisi, peneliti, untuk terus melakukan upaya, riset ,dan proses produksi yang halal dan suci," paparnya.

Baca: Butuh Waktu 15-20 Tahun untuk Ganti Komponen Vaksin MR Agar Bisa Halal

Sebelumnya, MUI menyatakan vaksin MR yang diproduksi SII dan digunakan Kementerian Kesehatan untuk imunisasi, mengandung unsur haram, yaitu kandungan kulit babi dan organ tubuh manusia atau human deploit cell.

Meski begitu, penggunaannya tetap dibolehkan, asal dalam keadaan terpaksa dan tak ada vaksin MR yang halal.

Keputusan tersebut tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang izin penggunaan vaksin MR dari India untuk imunisasi, yang berlaku mulai 20 Agustus 2018.

"Untuk masyarakat, semoga fatwa ini bisa dijadikan pijakan atau panduan di dalam pelaksanaan imunisasi yang diprogramkan Kemenkes pada Agustus-September ini," beber Niam. (Ria Anatasia)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved