Ternyata Puluhan Tahun Lambang Kabupaten Bekasi Keliru, Ini Kata Sejarawan Bekasi

Lambang yang digunakan Pemerintah Kabupaten Bekasi sebagai identitas diri selama puluhan tahun dinilai keliru. Begini penjelasannya:

Ternyata Puluhan Tahun Lambang Kabupaten Bekasi Keliru, Ini Kata Sejarawan Bekasi
Istimewa
ALI Anwar, Sejarawan Bekasi, menunjukkan lambang Pemerintah Kabupaten Bekasi. 

MESKI usianya telah paruh baya, namun lambang yang digunakan Pemerintah Kabupaten Bekasi sebagai identitas diri selama ini ternyata mengalami kekeliruan. Ironisnya, kesalahan pada logo pemerintahan setempat ini sudah terjadi sejak tahun 1970-an.

Sejarawan Bekasi, Ali Anwar menyatakan sudah melaporkan persoalan ini ke Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin. Terakhir kali hal itu disampaikan Ali ketika menghadiri Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bekasi ke-68 di Kompleks Pemerintah Kabupaten Bekasi, Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat pada Rabu, 15 Agustus 2018.

ALI Anwar, Sejarawan Bekasi, menunjukkan lambang Pemerintah Kabupaten Bekasi.
ALI Anwar, Sejarawan Bekasi, menunjukkan lambang Pemerintah Kabupaten Bekasi. (Istimewa)

"Sebetulnya sudah saya laporkan sejak tahun 2016 lalu ke Bupati yang kemudian diarahkan ke Bagian Organisasi Sekretariat Kabupaten Bekasi sambil melampirkan draf," kata Ali, Minggu (19/8/2018).

Menurut Ali, ada empat kesalahan yang terjadi pada lambang Pemerintah Kabupaten Bekasi bila mengacu Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 12 tahun 1962. Dia merinci, kesalahan itu ada pada bagian kapas, padi, bentuk golok hingga jumlah batu bata.

Di dalam lambang itu, pemerintah menyematkan kapas di sisi kiri golok. Padahal bila mengacu pada aturan, kapas itu seharusnya berupa delapan macam buah berwarna kuning dan emas. Buah-buahan ini melambangkan Kabupaten Bekasi sebagai wilayah penghasil buah, palawija dan sayur mayur.

Kemudian jumlah butir padi yang digunakan di sisi kanan golok yang tidak sesuai dengan filosofi. Berdasarkan payung hukum yang ada, seharusnya jumlah butir padi ada 17, namun faktanya ada 23 butir.

"Jumlah 17 butir padi mengandung makna tentang hari Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus," ujarnya.

Ali melanjutkan, kemudian kesalahan terjadi pada bentuk golok yang saat ini kelihatan lebih runcing. Berdasarkan kajiannya, bentuk golok seharusnya dibuat agak lebih bulat.

Hal itu diperkuat dengan pernyatan sesepuh wilayah di sana bahwa jenis golok yang digunakan agak bulat dan biasa dipakai untuk kegiatan sehari-hari.

"Kemudian pada masa penjajahan, senjata itu digunakan untuk mengusir musuh dan melindungi diri," ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help