Lomba Gerobak Kenangan Ala Warga Kampung Akuarium

Ini lomba di mana memori ingatan kita yang ada di Kampung (Akuarium), dituangkan dalam bentuk gerobak,” ucap Topas.

Lomba Gerobak Kenangan Ala Warga Kampung Akuarium
Warta Kota
gerobak Musala Al Ikhlas hasil karya warga Kampung Akuarium 

Warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara merayakan HUT ke 73 Republik Indonesia dengan Lomba Gerobak Memori.

Acara yang digagas seniman asal Jepang Jun Kitazawa dan Rujak Center for Urban Studies (RCUS) itu untuk ekspresikan kenangan.

Pantauan di lokasi, ada delapan gerobak yang dibuat warga. Namun ada tiga yang menarik perhatian seperti Gerobak Monas milik Teddy, Gerobak Kapal Yokohama milik Suwitno, dan Gerobak Musala Al Ikhlas milik Saiman.

Teddy mengatakan Gerobak Monas yang dibuatnya memiliki keterkaitan tersendiri dengan Kampung Akuarium. “Kenapa Gerobak Monas? Karena Kampung Akuarium bagian dari DKI Jakarta,” kata Teddy.

Suwitno yang membuat Gerobak Kapal Yokohama adalah representasi pertukaran budaya antara Indonesia dan Jepang. “Dari Jepang kita bawa mobil, motor, dari Indonesia kita bawa rempah-rempah, pertukaran lah,” katanya.

Adapun Saiman mengatakan Gerobak Musala Al Ikhlas adalah simbol perjuangan warga Kampung Akuarium. “Banyak kenangannya, ini kan memori yang lama-lama. Ini kan dulunya swadaya masyarakat dengan bantuan pihak lain,” ujarnya.

Ketua RT 12/RW 04 Penjaringan, Topas Juanda mengatakan Lomba Gerobak Memori merupakan puncak acara perayaan HUT Kemerdekaan RI di Kampung Akuarium.

“Apa itu Gerobak Memori? Ini lomba di mana memori ingatan kita yang ada di Kampung (Akuarium), dituangkan dalam bentuk gerobak,” ucap Topas.

Menurut Topas, bahan material pembuatan gerobak disokong Rujak Center for Urban Studies (RCUS). Sehingga peserta hanya tinggal menuangkan ide terkait gerobak apa yang ingin mereka buat.

“Di sini ada gerobak Jembatan Merah, Monas, musala yang lama, Museum Bahari, dan lain-lain. Semua gerobak ini menunjukkan memori kita semua yang ada di Kampung Akuarium,” katanya.

Jun Kitazawa mengatakan, Lomba Gerobak Memori bertujuan untuk menumbuhkan kembali kenangan warga Kampung Akuarium akan kehidupan sehari-hari mereka sebelum dan sesudah penggusuran.

“Jadi saya bikin tema gerobak, tapi memori itu dari kampung dulu sebelum digusur. Jadi gerobak, tapi dari emori, jadi mereka ekspresif dengan memori mereka,” beber pria yang diutus Japan Foundation untuk mengadakan proyek seni di Indonesia itu.

Jun menambahkan proyek seni ini adalah upaya menampilkan tema kehidupan sehari-hari yang ia lihat di Kampung Akuarium. Apalagi ini adalah kali kedua kegiatan semacam ini digelar di Kampung Akuarium.

“Teknik mereka bikin kampung sendiri bagi saya menarik, maksudnya dibelakang ada masalah masyarakat, politik, semua ada. Tahun kemarin saya lihat mereka bikin rumah sendiri, apapun, orang Jepang belum tentu bisa begitu,” kata Jun. (jhs)

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: ahmad sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved