Tekanan Psikologis Jadi Alasan Ojol Tunda Aksi 188

Saat ini, Garda sedang mengurus proses pencabutan izin di Polda Metro Jaya tekait penyelenggaraan Aksi 188.

Tekanan Psikologis Jadi Alasan Ojol Tunda Aksi 188
Warta Kota/Rangga Baskoro
Pernyataan sikap Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) yang disampaikan Yohannes Ben, penanggung jawab aksi demo massal ojol, dihadiri oleh para Presidium Garda beserta Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setyadi di Markas Garda, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (16/8). 

GABUNGAN Aksi Roda Dua (Garda) memutuskan untuk menunda pelaksanaan Aksi 188 dengan tuntutan rasionalisasi tarif. Tekanan psikologis menjadi satu dari sekian alasan para ojol untuk menunda aksi tersebut.

"Kami tidak mau dipandang menolak Asian Games atau menjelekan nama NKRI, kami enggak mau dicap sepeti itu. Dianggap menggagu stabilitas negara. Jadi penekanan yang sifatnya psikologis seperti itu saja," ungkap Anggota Presidium Garda Andreannes di Markas Garda, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (16/8).

Rencana Aksi 188 saat pembukaan Asian Games 2018 memang sengaja dilakukan sebagai upaya agar pemerintah bisa terus menekan dua aplikator untuk memenuhi tuntutan para ojol yang meminta kenaikkan tarif sebesar Rp 3.000/km.

"Kami memang mau ambil momennya. Kami tahu ada pembukaan Asian Games. Tujuannya kami ingin agar pemerintah turun tangan membantu dan memfasilitasi kita agar menekan aplikator. Kami memang sudah difasilitasi Dirjen Perhubungan Darat dan Ditintelkam Polda Metro Jaya untuk bertemu dengan aplikator. Ternyata mereka aplikator bersih kukuh untuk tidak menaikkan tarif," kata Koordinator Aksi, Yohannes Ben.

Saat ini, Garda sedang mengurus proses pencabutan izin di Polda Metro Jaya tekait penyelenggaraan Aksi 188.

Upaya mediasi

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Budi Setyadi menyatakan telah banyak melakukan upaya mediasi dengan cara mempertemukan Garda dengan dua aplikator.

Pertemuan tersebut juga melibatkan Ditintelkam Polda Metro Jaya.

Namun demikian, belum ada kesepakatan yang bisa menjembatani keinginan para pengemudi ojol.

"Tapi sampai dengan sekarang, kami sebagai pemerintah hanya bisa memberikan fasilitas dan mempertemukan antara pihak Garda dan dua aplikator ini. Setiap pertemuan, saya katakan sebenarnya tidak deadlock, ada kemajuan, tapi selanjutnya saja tidak bisa mengikuti. Karena seperti yang dikatakan teman-teman Garda, kalau ada kenaikkan, yang merasakan teman-teman Garda sendiri," kata Budi.

Ia menambahkan hingga kini dua aplikator lebih memilih untuk membuat program berupa bonus kepada para pengemudi yang disebutnya sebagai perbaikan pendapatan.

"Memang pihak Grab juga sudah memberikan rilis kepada media dan bilang sudah ada kenaikkan, dari Rp 1.600 ke 2.300. Saya juga dapat informasi dari GoJek bahwa ada program selama bulan Agustus ada oli gratis. Itu semua yang dikatakan aplikator sebagai bentuk kenaikan tarif atau perbaikan pendapatan,"

"Untuk dua aplikator ini agak riskan untuk menaikkan tarif, tetapi lebih kepada gimik-gimik perbaikan pendapatan. Misalnya pada saat hujan itu kan ada tambahan lagi. Jadi sebetulnya sudah sering sekali saya pertemukan agar ada kesepakatan itu," katanya.

Pihak Kemenhub hingga kini masih berupaya untuk melakukan mediasi dengan kedua belah pihak agar permasalahan tersebut tidak semakin berkepanjangan.

"Kami akan berupaya mencari celah lagi untuk mempertemukan kembali. Paling tidak ada kesepakatan, ya sudah kita tanyakan 'proses bisnis yang baik seperti apa sih?' Saya selalu membujuk mereka. Tapi kita tahu kadang-kadang aplikator ini masih membuat program-program yang kadang-kadang berpihak kepada mereka tapi kepada pengemudi tidak seperti itu," ungkap Budi. (abs)

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved