Rizal Ramli Dukung Sebutan Economy Indonesia Stupid

Defisitnya neraca perdagangan Indonesia yang mencapai 2,03 miliar dolar AS pada Juli 2018 dinilai Rizal Ramli merupakan kemunduran.

Rizal Ramli Dukung Sebutan Economy Indonesia Stupid
Warta Kota
Rizal Ramli dan Anwar Ibrahim bertemu di Jakarta. 

Termasuk penurunan kurs rupiah sebesar 1 persen pada pekan ini karena krisis mata uang Turki mengguncang pasar negara berkembang.

'Seperti Turki, Indonesia menjalankan anggaran kembar dan defisit akun saat ini. Bank sentral telah menghabiskan miliaran dolar untuk mempertahankan rupiah dan kemarin menaikkan suku bunga untuk keempat kalinya sejak Mei' artikel The Economist pada Rabu (15/8/2018).

Dikutip dari kontan.co.id, pemerintah siap menerbitkan surat berharga negara (SBN) secara online melalui saving bond ritel seri SBR004 bulan ini. Masa penawaran akan dilakukan mulai 20 Agustus hingga 13 September mendatang.

Kali ini, pemerintah menetapkan kupon mengambang dengan kupon minimal (floating with floor) SBR004 sebesar 8,05%, lebih tinggi dibanding SBR003 yang diterbitkan Mei lalu sebesar 6,8%.

Tingkat kupon itu, "Dari BI 7-Day Reverse Repo Rate yang baru 5,5% ditambah spread tetap 2,55%," kata Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Loto Srinaita Ginting kepada Kontan.co.id, Rabu (15/8).

Dalam penerbitan SBR004 ini, pemerintah juga menambah dua mitra distribusi yaitu Bank Tabungan Negara (BTN) dan perusahaan teknologi finansial (tekfin), yaitu Modalku. Dengan demikian, total mitra distribusi pada penerbitan kali ini mencapai 11 mitra.

Penerbitan surat utang negara itu dinilai Dian Yuniarti lewat akun @dianyounee sangat tinggi dibandingkan dengan semester awal tahun 2018, yakni dari sebelumnya 6,8 persen naik menjadi 8,05 persen.

"Kali ini, pemerintah menetapkan kupon mengambang dengan kupon minimal (floating with floor) SBR004 sebesar 8,05%, lebih tinggi dibanding SBR003 yang diterbitkan Mei lalu sebesar 6,8%," tulis Dian pada Kamis (16/8/2018).

Tanggapan Dian pun dinilai Rizal Ramli sederhana. Menurutnya, yield atau keuntungan yang tinggi agar dapat terus menerbitkan surat utang, sesuai dengan hukum ekonomi neoliberal.

"Supaya terus bisa ngutang,, harus terbitkan surat utang dengan yield semakin tinggi. Memang ilmu ekonom neoliberal sebatas hanya naikkan harga dan naikkan utang dengan bunga semakin tinggi," ungkapnya diakhiri emoji kecewa. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved