Pakar Ekonomi UGM Sebut Respon Dunia Terhadap Krisis Turki Terlalu Lebay

Bahkan sejumlah pengamat memprediksi situasi sulit yang dihadapi Indonesia akan berlangsung lama.

Pakar Ekonomi UGM Sebut Respon Dunia Terhadap Krisis Turki Terlalu Lebay
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Karyawan jasa penukaran uang asing menunjukkan dolar Amerika di Masayu Agung, Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (2/8/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah ke Rp14.457 per dolar AS. 

DAMPAK krisis ekonomi yang melanda sejumlah negara di Asia dan Eropa berimbas kepada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Bahkan, sejumlah negara di Asia Tenggara mengalami dampak krisis tersebut.

Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo - Jusuf Kalla saat ini terus berupaya melakukan strategi ekonomi agar tidak terjadi gejolak di tengah masyarakat, khususnya para pelaku bisnis.

Bahkan sejumlah pengamat memprediksi situasi sulit yang dihadapi Indonesia akan berlangsung lama.

Hal ini dipicu oleh adanya pengetatan mata uang dan tingkat suku bunga Amerika Serikat serta efek krisis ekonomi di Turki.

Bila pemerintah tidak cepat melakukan upaya dan mencari solusi, maka tidak mustahil mata uang rupiah akan semakin terpuruk.

Situasi sulit ini diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan 2019 mendatang.

Terkait dengan merosotnya mata uang rupiah terhadap dolar AS, pakar ekonomi dari Universitas Gajah Mada, A Tony Prasetiono mengatakan, perkembangan aktivitas riil perekonomian global masih sangat baik, ditunjukkan oleh tingkat pertumbuhan yang sehat dan terjadi secara luas di negara maju serta berkembang.

Menurutnya, banyak pengamat yang menggambarkan situasi di Turki hampir sama dengan kondisi Indonesia tahun 1997-1998 silam.

Padahal, keduanya sangat berbeda dan tidak bisa dibandingkan.

Halaman
123
Penulis: Hamdi Putra
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved