Kasus Narkoba

Siswa-siswi SMKN 32 Jaksel Tegang Saat BNNP DKI Jakarta Lakukan Tes Urine

RATUSAN siswa SMK N 32 di Tebet, Jakarta Selatan terkejut ketika terdengar arahan dari pengeras suara.

Siswa-siswi SMKN 32 Jaksel Tegang Saat BNNP DKI Jakarta Lakukan Tes Urine
Warta Kota/Feryanto Hadi
Ratusan siswa SMK N 32 di Tebet, Jakarta Selatan terkejut ketika terdengar arahan dari pengeras suara yang meminta mereka berkumpul di aula sekolah. 

RATUSAN siswa SMK N 32 di Tebet, Jakarta Selatan terkejut ketika terdengar arahan dari pengeras suara yang meminta mereka berkumpul di aula sekolah.

Padahal, hari masih pagi dan pelajaran belum dimulai.

Mereka saling bertanya satu sama lain sambil berbondong-bondong menuju ruang aula di lantai tiga sekolah itu.

Mereka pun dibuat makin bingung dengan hadirnya sejumlah petugas dari BNN Provinsi DKI Jakarta yang sudah ada di aula.

Rupanya hari itu, BNNP DKI akan melakukan tes urin kepada siswa, guru dan karyawan sekolah.

"Memang setiap kali tes urin ini sifatnya rahasia dan dadakan. Hanya kepala sekolah dan wakil kepala sekolah yang tahu. Ini agar efektif bisa mendapatkan hasil yang akurat," ujar dr Shilvya Febrina selaku Kasi Pemberdayaan Masyarakat BNNP DKI Jakarta kepada Warta Kota di sela kegiatan, Selasa (14/8/2018).

Shilvya kemudian berbicara di depan ratusan siswa itu mengenai maksud dan tujuan mereka dikumpulkan di sana, yakni edukasi bahaya narkotika serta tes urine.

Ia kemudian menjelaskan mengenai permasalahan-permasalahan menyangkut penyalahgunaan narkotika termasuk bahaya yang akan ditimbulkannya.

Setelah itu, para siswa menjalani tes urine satu persatu.

Shilvya menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program BNNP DKI Jakarta dalam melakukan pencegahan penyalahgunaan narkotika di kalangan masyatakat, khususnya pelajar.

Tahun ini, sosialisasi dan tes urine dilakukan di 100 sekolah mulai tingkat SMP hingga SMU/SMK serta di lembaga-lembaga pemerintahan.

Lebih baik mencegah daripada mengobati, demikian dikatakan dokter cantik ini.

"Hasil dari penelitian saat ini, terdapat sebanyak 3,2 juta pengguna narkoba dan 24 persennya dari kalangan pelajar. Maka kita akan gencarkan upaya pencegahan dan edukasi seperti ini khususnya di Jakarta," imbuhnya.

Tes urine yang dilakukan untuk menemukan kandungan sejumlah narkotika seperti ganja, sabu, ekstasi, morfin, kokain, obat penenang dan tembakau sintetis atau tembakau gorila.

Para siswa menunggu hasil tes urine dengan wajah tegang.

Namun, seketika berubah menjadi girang saat hasil tes menunjukkan mereka negatif naarkotika.

Hasil negatif

Janas selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 32 mengungkapkan, kegiatan itu diikuti sebanyak 580 siswa, guru dan karyawan sekolah.

Berada di salah satu zona merah penggunaan narkotika, yakni di kawasan Tebet, Janas bersyukur dari tes urine yang dilakukan di sekolah itu, hasilnya semuanya negatif.

"Ini bentuk pencegahan, kerjasama sekolah dengan BNNP DKI. Tahun kemarin juga kami lakukan kegiatan seperti ini dan hasilnya 100 persen bersih," katanya.

Sementara itu, Shilvya mengapresiasi keluarga besar sekolah itu yang terbukti bebas narkotika.

Meski demikian, ia menyebut, dalam sejumlah tes urin yang sebelumnya dilakukan di sejumlah sekolah, pihaknya juga menemukan siswa positif narkotika.

"Di SMK 32 hasilnya negatif semua. Tapi sebelumnya di sekolah lain kami menemukan ada enam siswa positif menggunakan ganja. Mereka kami lakukan rehabilitasi dengan konseling," ungkapnya.

Ia menambahkan, proses penanganan siswa yang terdampak narkotika agak berbeda dengan perlakukan kepada pengguna narkotika dewasa.

"Kita upayakan rehabilitasi dengan konseling, bukan dengan rehabilitasi rawat inap. Kalau memang mereka masih pakai meski sudah dilakukan konseling, baru dirawat inap," ungkapnya.

"Kami juga imbau kepada pihak sekolah, ketika ada siswa positif narkotika tapi masih dalam kategori pemakai awal, supaya siswa itu tidak dikeluarkan dari sekolah selama proses rehabilitasi berlangsung. Sebab, kalau dikeluarkan justru mereka bisa makin nakal bahkan bisa jadi pemain utamanya," imbuhnya.

Dari pengakuan para siswa yang mengkonsumsi narkotika, mereka mengaku terpengaruh lingkungan, dari pergaulan dan adapula yang mengaku punya masalah dengan orangtuanya.

"Inilah salah satu tujuan tes urine bagi pelajar. Selain pencegahan, bagi yang positif bisa dilakukan penanganan secara cepat dan akurat karena mereka umumnya masih mencoba-coba dan tidak tahu bahaya apa yang bisa ditimbulkan, baik soal kesehatan maupun dari sisi hukumnya," pungkas Shilvya

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved