Rupiah Terus Melemah, Rizal Ramli: Rakyat Belum Menikmati Arti Kemerdekaan

Terus melemahnya rupiah terhadap dolar diungkapkan Rizal Ramli bukan karena masalah pemimpin.

Rupiah Terus Melemah, Rizal Ramli: Rakyat Belum Menikmati Arti Kemerdekaan
Warta Kota
Rizal Ramli 

Beragam komentar pun dituliskan; sebagian besar khawatir, tetapi ada juga yang tetap mempercayakan perbaikan ekonomi kepada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

"Ada juga yang bilang bahwa kita gak terpengaruh oleh melemahnya Rupiah terhadap Dolar AS. Alasannya, karena kita berdagang dan belanja menggunakan Rupiah. Ini mesti kuliah lagi di Ekonomi Dasar. Kita beli faktor2 produksi pakai kurs, lalu menjual dalam Rupiah. Ini pincang!," tulis Candral Ibrahim lewat akun @candrakepri.

"Semakin menipisnya cadangan devisa akibat terdepresiasi kurs dolar, semakin menekan Rupiah. Secara tidak langsung, sudah diakui pemerintah dengan menghentikan sebagian proyek infrastruktur, karena banyak komponen impor di dalamnya. Tapi bnyk pula yg membantah," tambahnya.

Analogi sederhana pelemahan rupiah digambarkannya sederhana lewat tempe.

Tempe yang hingga kini masih menggunakan kedelai impor katanya akan mahal, sebab ongkos produksi tempe akan terdepresiasi akibat kenaikan bahan baku, kedelai.

"Impor bahan baku yg masih terjadi terhadap kebutuhan kedelai, misalnya, turut menekan Rupiah. Akibatnya, harga2 akan terdepresiasi. Harga tempe dan tahu akan semakin mahal atau volumenya akan semakin kecil (tempe menipis, antara lain)," tulisnya. 

Sementara dikutip dari Kompas.com, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani menyebut pelemahan rupiah berasal dari dua sentimen, yakni global dan domestik.

“Kita tetap perlu hati-hati karena lingkungan yang kita hadapi sangat berbeda sekali dengan tahun 2015,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Senin (13/8/2018).

Ia mengatakan, di tahun 2015, dari sisi domestik memang current account deficit (CAD) lebih besar yakni dia atas 4 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sebagai perbandingan, CAD di kuartal II 2018 lalu tercatat 3 persen dari PDB.

Namun bedanya, di tahun 2015, quantitative easing masih diterapkan dan kenaikan suku bunga belum dilakukan.

Halaman
123
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help