Pilpres 2019, Keinginan Tokoh Nasional kepada Pemimpin Masa Depan

Pendaftaran capres dan cawapres telah berakhir dan apa yang menjadi keinginan tokoh nasional kepada pasangan capres dan cawapres itu.

Pilpres 2019, Keinginan Tokoh Nasional kepada Pemimpin Masa Depan
Kompas.com
Bendera partai. 

WARTA KOTA, PALMERAH---Pendaftaran calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (cawapres) telah berakhir, Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno menjadi kandidat dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Namun apa yang menjadi keinginan masyarakat.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera, menyebut keinginan utama masyarakat adalah perbaikan ekonomi. Sebab menurunnya ekonomi sudah dirasakan rakyat.

Baca: Politik Identitas di Pilpres 2019, Ketua Umum PP Muhammadiyah: Pembeli dan Penjual Ketemu

"Tugas berat pemimpin bangsa ke depan adalah menuntaskan masalah ekonomi ekonomi dan ekonomi. Ini prioritas karena dampaknya sudah sangat dirasakan rakyat," tulisnya lewat akun Twitter @MardaniAliSera pada Selasa (14/8/2018) diakhiri tagar #KoalisiGantiPresiden dan #2019GantiPresiden.

Sementara Muhammad Said Didu lewat akun Twitter-nya @saididu mengingatkan agar masing-masing capres dan cawapres tidak saling serang.

Terlebih adanya tim buzzer yang seringkali mengotori lini massa media sosial dengan kalimat tidak pantas.

Baca: GP Ansor Beri Dukungan Moral Kepada Maruf Amin di Pilpres 2019

"Berharap agar pasangan Capres/Cawapres @jokowi dan KH Ma’ruf Amin dan pak @prabowo dan Pak @sandiuno tidak “memelihara” tim sukses, tim kampanye, atau tim buzzer yang suka berkata2 kasar serta tdk beretika," ungkapnya.

Sementara Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang sekaligus mantan Menteri Kehutanan Republik Indonesia 2004-2009, MS Kaban, berharap agar pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan yang luas.

Bukan memberdayakan warga negara asing (WNA), sementara masih banyak pengangguran.

Lewat status Twitter0nya, @mskaban hal tersebut dianalogikan lewat hubungan Hongkong dan Republik Rakyat China (RRC).

Baca: Jelang Pilpres 2019, Memilih Saham-saham Menarik Bursa Efek Indonesia di Tahun Politik

Menurutnya, walau Hongkong termasuk dalam RRC, tetapi apabila tidak sesuai ketentuan, warga RRC yang masuk Hongkong dapat diusir keluar.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help