Gempa Lombok

Lawan Hoax, BNPB Tegaskan Bencana Alam Tidak Bisa Diprediksi

Dirinya menyebut terdapat seorang ahli gempa yang mengaku dapat memprediksi gempa bakal terjadi.

Lawan Hoax, BNPB Tegaskan Bencana Alam Tidak Bisa Diprediksi
Dokumentasi Bagus Oka, Warga Lombok Barat
Suasana di Lombok Barat setelah terjadi gempa pada Kamis (9/8/2018) siang. (Dokumentasi Bagus Oka, Warga Lombok Barat) 

KEPALA Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terlihat geram dengan ramainya isu gempa susulan yang beredar.

Ditegaskannya, gempa ataupun bencana alam lainnya tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya.

Hal itu disampaikannya lewat akun twitternya @Sutopo_PN pada Senin (13/8/2018).

Dirinya menyebut terdapat seorang ahli gempa yang mengaku dapat memprediksi gempa bakal terjadi.

"Foto ini hanya rekayasa gambar dari oknum penyebar hoax. Seolah saya sudah menerima peringatan dari orang Belanda akan ada gempa besar setelah tanggal 22/7. Lalu disebarluaskan di media sosial agar masyarakat percaya. Ini semua HOAX. Selalu beredar di sosmed setelah gempa besar," tulis Sutopo lewat akun twitternya.

"Ini HOAX yang ditujukan untuk masyarakat di Jawa. Memang subduksi di selatan Jawa bergerak aktif rata-rata 6-7 cm/tahun. Subduksi tersebut sumber gempa. Tetapi tidak bisa diprediksi pasti akan terjadi gempa besar dalam beberapa waktu ke depan. Dihimbau tidak perlu khawatir," tambahnya lagi. 

Oleh karena itu, Sutopo mengimbau agar masyarakat dapat melawan hoax. Salah satunya dengan tidak menyebar informasi, khususnya terkait bencana alam yang belum diketahui kebenarannya.

"Setiap terjadi bencana cukup besar di Indonesia selalu disusul HOAX di sosial media. Setelah ada gunung meletus, gempa, banjir, cuaca ekstrem, gerhana bulan/matahari dll selalu saja bertebaran Hoax akan ada bencana besar susulan. Masyarakat resah. Mari kita lawan Hoax," tegasnya.

Kabar hoax itu salah satunya disampaikan oleh seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Belanda. Lewat media sosial, disebutkan gempa besar akan kembali terjadi pada sepekan mendatang.

"Hoax prediksi orang Belanda yg berisi akan ada gempa besar susulan selalu beredar luas di sosmed pascagempa besar di Indonesia. Tanggal dalam prediksi tsb dimundurkan 1 minggu oleh oknum penyebar hoax. Ini terjadi sejak gempa Pidie Jaya (2016), Lembata (2017), Lombok (2018) dll, jelasnya.

"Ibu saya di kampung Boyolali pun ikut khawatir dan resah akan adanya gempa besar di selatan Jawa dalam beberapa waktu ke depan. Ini hoax. Potensi gempa memang ada. Tapi tidak bisa diprediksi pasti kapan terjadi. Bisa terjadi dalam 1 tahun, 10 tahun, atau ratusan tahun," tambahnya. 

Terlepas dari hoax yang beredar, Sutopo menyebutkan ada sebanyak 564 gempa sejak gempa utama atau main shock terjadi pada Minggu (5/8/2018).

Tercatat ada sebanyak 392 orang meninggal dunia, 1.353 orang luka-luka, 387.067 orang mengungsi, 67.875 unit rumah rusak, 606 sekolah rusak, dan kerusakan lain hingga Minggu (12/8/2018).

Jumlah korban meninggal diperkirakan akan terus bertambah.

"Sudah terjadi 564 gempa susulan pada 12/8/2018 pukul 07.00 WITA sejak gempa 7 SR (5/8/2018). Banyak beredar Hoax di Lombok. Akan terjadi gempa besar dan tsunami. Jangan percaya. Semua itu hoax dari oknum tidak bertanggung jawab. Gempa belum dapat diprediksi pasti. Harap tenang," tulis Sutopo.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help