Fashion

Kain Nusantara: Sejarah Sarung dari Masa ke Masa

Sarung diperkirakan muncul di Indonesia pada abad ke-14 yang dibawa oleh pedagang Arab dan India.

Kain Nusantara: Sejarah Sarung dari Masa ke Masa
Kompas.com/Fabian Januarius Kuwado
Calon presiden Joko Widodo dan calon wakil presidennya Maruf Amin mendatangi Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/9/2018). 

Nama Ma'ruf Amin menjadi sorotan publik sejak resmi dinyatakan sebagai calon wakil presiden mendampingi calon presiden Joko Widodo untuk berlaga dalam Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Selain memiliki pengalaman yang panjang sebagai pemuka agama, wakil rakyat, dan sejumlah jabatan publik, Ma'ruf juga memiliki gaya berbusana yang khas.

Joko Widodo alias Jokowi gemar berpakaian kasual dengan sneakers bak anak muda, Ma'ruf justru tampil sebaliknya.

Sebagai sosok ulama, pria 75 tahun ini tampil dengan gaya khasnya sendiri.

Saat mendaftarkan diri bersama Jokowi ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (10/8/2018) misalnya, ia tampil dengan sarung songket hijau bermotif, dan ikat pinggang coklat untuk mengeratkannya.

Selebihnya, Ma'ruf memakai dalaman putih, yang dipadu dengan jas dan syal panjang berwarna sama.

Baca: Sarung Maruf Amin yang Kental Kearifan Lokal Nusantara

Sarung rupanya menjadi ciri khas pria kelahiran Banten 11 Maret 1943 ini.

Jika dilihat dari latar belakang Ma'ruf yang sempat menjabat sebagai Ketua NU wilayah Jakarta periode 1966-1967, wajar jika pria yang dikaruniai delapan anak ini identik dengan sarung.

Pasalnya, organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia ini memang dikenal sebagai kaum "sarungan".

Sebagian besar anggota kelompok pun memakai sarung sebagai kebiasaan. Ormas ini juga yang dalam sejarahnya pernah menggunakan sarung sebagai gerakan politik identitas.

Pengojek motor asli Suku Tengger menggunakan sarung saat melakukan kegiatan sehari-hari seperti mengantarkan wisatawan ke Puncak B29 DI Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa (11/5/2017). Bagi Suku Tengger, sarung seperti harga diri, tren, dan juga identitas.
Pengojek motor asli Suku Tengger menggunakan sarung saat melakukan kegiatan sehari-hari seperti mengantarkan wisatawan ke Puncak B29 DI Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa (11/5/2017). Bagi Suku Tengger, sarung seperti harga diri, tren, dan juga identitas. (Kompas.com/Wahyu Adityo Prodjo)
Halaman
1234
Editor: Intan Ungaling Dian
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved