Ratusan Ribu Masjid di Indonesia Diharapkan Jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Keberadaan Masjid di Indonesia yang jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 800 ribu diharapkan bukan hanya menjadi tempat ibadah,

Ratusan Ribu Masjid di Indonesia Diharapkan Jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat
simas.kemenag.go.id
Islamic Center dr Moeldoko, Jawa Timur 

Keberadaan Masjid di Indonesia yang jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 800 ribu diharapkan bukan hanya menjadi tempat ibadah, namun juga pemberdayaan masyarakat.

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko mengatakan, operasional masjid sering kali tidak terpenuhi biaya dari sumbangan jemaah. Sejumlah aset masjid bisa saja dimanfaatkan agar bisa mendatangkan pemasukan, asalkan fungsi utama masjid sebagai rumah ibadah tetap tidak terganggu.

Ia pun bercerita tentang masjid dan Islamic center di Jombang, Jawa Timur yang dibangunnya. “Bukan saya mau Riya (ingin dipuji) tapi saya contohkan, di Islamic Center di Jombang, dibangun toko oleh-oleh di bagian depannya, ini untuk dikelola agar masjid tidak meminta-minta di jalanan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Islamic Center Moeldoko juga memiliki gedung pertemuan dan barak untuk musafir, hingga panti asuhan yatim piatu.

Ia berharap komplek Islamic Center seluas hampir 1 Ha itu bisa memberdayakan masyarakat Jombang. Moeldoko menegaskan, pengelolaan Masjid yang menampung sekitar 1500 jamaah dan Islamic Center itu diserahkan ke Pemkab Jombang. Kecuali untuk panti asuhan, tetap ditanganinya.

Dihubungi terpisah,  Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Azhar Simanjuntak, seharusnya tidak menjadi masalah. Dalam kesempatan terpisah, Dahnil mengatakan bahwa masjid sejatinya adalah pusat peradaban Islam dengan segala kegiatan ekonomi, politik, atau kebudayaannya. “Jadi jangan dianggap masjid hanya untuk tempat ibadah saja,” katanya kepada wartawan.

Oleh karena itu, ia sepakat bahwa semangat membangun masjid adalah juga untuk membangun peradaban. Apalagi bila pembangunannya dilakukan tanpa harus meminta-minta di tepi jalan. Karena di luar cara itu, menurutnya bisa juga dilakukan lewat pemberian bantuan sosial dari pemerintah, dari kelompok usaha sosial masyarakat, atau dana CSR. “Kita perkuat semangat sedekahnya,” kata Dahnil lagi.

Fungsi lain masjid, di luar sebagai tempat kegiatan ibadah, mendapat penguatan dari argumen Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Didin Hafidhuddin. Menurutnya, pada zaman keemasan Islam, hampir semua kegiatan berporos di masjid. Mulai dari ibadah, sosial, ekonomi, kesejahteraan, hingga pendidikan.

Dalam konteks sosial, Didin menyampaikan bahwa Masjid bisa menjadi penghubung antara kaum yang kurang mampu dengan jemaah yang lebih mampu secara ekonomi. Dalam konteks pendidikan, masjid bisa mengambil peran sebagai penjamin anak-anak kurang mampu agar mereka bisa terus mendapat akses pendidikan atau memberikan beasiswa.

"Andaikan setiap Masjid [menyekolahkan] dua orang anak dhuafa, bayangkan, berapa juta anak yang bisa diatasi, diberikan harapan pendidikan," tutur Didin.

Selain itu, keberadaan komunitas remaja Masjid dinilai mampu membangun karakter generasi muda. “Banyak contoh remaja masjid yang melakukan aktivitasnya sejalan dengan kebutuhan pemuda, dan melahirkan pemuda yang menjadi pimpinan bangsa,” pungkas Didin.

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyebut peranan masjid sangat penting dalam pembinaan karakter generasi muda. Menurut dia, Nabi Muhammad SAW juga melakukan pemberdayaan masyarakat di masjid. “Di zaman Nabi menjadi pusat ekonomi, pendidikan bahkan kantor pengadilan. Masjid menjadi pusat informasi dan kemajuan zaman,” kata Nasaruddin kepada wartawan di Jakarta.

Nasaruddin mengakui, dari sekitar 800 ribu masjid yang ada di Indonesia, belum seluruhnya dijadikan tempat pemberdayaan masyarakat. “Coba setiap masjid ada minimarket karena makanannya terjamin halal, masjid bisa jadi pusat ekonomi juga,” kata anggota Majelis Mustasyar Dewan Masjid Indonesia itu.

Selain itu, dia berharap pendidikan agama di sekolah juga dipindah di masjid. Alasannya, kata dia, guru bisa mengontrol langsung tata cara siswa dalam belajar agama, baik cara wudhu, pakai mukena atau ibadah. "Jadi pendidikan agama tidak perlu belajar di atas meja terus," ucapnya.

Penulis: Ahmad Sabran
Editor: ahmad sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved