Pilpres 2019

Fadli Zon: Kabinet Jokowi Tak Bisa Pisahkah Antara Kepentingan Pemerintah dan Politik

Saya tidak tahu ya. Ini kadang-kadang pemerintah ini saya bingung ya. Mereka berlaku sebagai pemerintah atau berlaku sebagai tim dari calon presiden?

Fadli Zon: Kabinet Jokowi Tak Bisa Pisahkah Antara Kepentingan Pemerintah dan Politik
Kompas.com
Fadli Zon tempuh jalur hukum terhadap akun di media sosial yang menyebarkan gosip selingkuh. 

WAKIL Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon mempertanyakan kinerja kabinet pemerintahan Joko Widodo mendekati Pilpres 2019 ini.

Dalam acara Indonesia Lawyers Club pada Selasa (8/8/2018) malam, Fadli Zon berpendapat bahwa jajaran Jokowi lebih mengarah bekerja kepada sosok calon presiden 2019.

"Saya tidak tahu ya. Ini kadang-kadang pemerintah ini saya bingung ya. Mereka berlaku sebagai pemerintah atau berlaku sedang sebagai tim dari sebuah calon presiden? Sudah tidak jelas lagi, istana bekerja untuk rakyat atau istana bekerja untuk calon presiden 2019?" ujar Fadli Zon yang hadir dalam acara dengan tema 'ILC Mendaulat UAS'.

Dirinya merasa kabinet pemerintahan Jokowi, seperti menteri maupun sekretaris kabinet harus bisa memisahkan mana yang merupakan kepentingan pemerintahan mana yang merupakan kepentingan politik.

"Mereka harus memisahkan dong urusan negara, urusan negara. Urusan presiden, urusan presiden. Jangan urusan presiden jadi calon presiden. Ini ada conflict of interest," tuturnya.

Baca: Ustaz Ridwan Kholid dan Felix Siauw Peragakan Jurus Silat, Katanya untuk Menangkis Kebencian

Baca: Fadli Zon Pastikan Prabowo Subianto Umumkan Cawapresnya Besok

Baca: Fahri Hamzah: Cawapres Itu Embel-embel, Ban Serep

Fadli Zon memberikan contoh salah satunya adalah ketika Presiden mengundang para pemimpin parpol yang dirasanya itu tidak pantas dilakukan oleh Presiden.

"Jadi menteri-menteri juga seharusnya enggak bicara seperti itu, 'Presiden mengundang ketum-ketum parpol' untuk apa? Untuk apa presiden mengundang ketum-ketum parpol? Itu urusan koalisi mereka. Itu bukan tugas presiden. Dia sebagai calon presiden, tidak boleh melakukan itu. itu abuse of power menurut saya," ujarnya.

Mengundang Ketua Parpol

Kegiatan mengundang para ketua partai politik memang pernah dilakukan Jokowi beberapa waktu lalu di Istana Bogor.

Pertemuan yang dilakukan pada 23 Juli 2018 lalu dilakukan bersama enam partai politik diantaranya Ketua Umum Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.

Ada juga Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang.

Baca: Hotman Paris Bongkar Kisah di Ruang Penyidik Saat Ariel dan Cut Tari Diperiksa Kasus Video Dewasa

Baca: Soekarno: Kami Sangat Melarat Hampir Tidak Bisa Makan Dalam Sehari (1)

Baca: Zulkifli Hasan Temui Jokowi, PAN Bantah Merapat ke Koalisi 9 Parpol, tapi Ada Syaratnya

PRESIDEN Joko Widodo santap malam bersama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang di Istana Bogor, Senin (23/7/2018) malam.
PRESIDEN Joko Widodo santap malam bersama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang di Istana Bogor, Senin (23/7/2018) malam. (Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Dalam pertemuan tersebut terlihat tidak hanya pertemuan rapat biasa melainkan juga diiringi dengan makan malam bersama.

Lewat akun Instagramnya, Jokowi sempat mengunggah foto pertemuan tersebut.

"Bersama para tokoh bangsa, ketua-ketua partai, menanti hidangan gurame goreng kipas, toge ikan asin, sampai minuman bandrek susu kelapa, sambil berbincang-bincang," tulisanya.

"Masalah-masalah bangsa tak akan bisa dipikirkan dan diselesaikan hanya oleh satu dua orang sahaja. Kebersamaan dan persatuan adalah aset penting bangsa ini," tambahnya.

Penulis: Yosia Margaretta
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved