Pilpres 2019

Kata Pengamat, Cawapres yang Tak Punya Daya Magnetik ke Kalangan Kelompok Islam Berpotensi Kalah

Sementara, tambah Nyarwi Ahmad, Partai Demokrat juga menyodorkan AHY yang dipertimbangkan Prabowo Subianto sebagai cawapresnya.

Kata Pengamat, Cawapres yang Tak Punya Daya Magnetik ke Kalangan Kelompok Islam Berpotensi Kalah
Warta Kota/Alex Suban
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Prabowo Subianto di Istana Negara, usai pelantikan Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. 

PENGAMAT politik sekaligus Direktur Presidential Studies DECODE UGM Nyarwi Ahmad mengatakan, kubu Prabowo Subianto berada dalam posisi yang tidak mudah dalam menentukan nama cawapresnya.

Hal tersebut terkait adanya rekomendasi Ijtima Ulama yang menawarkan dua nama, yakni Ketua Majelis Syuro PKS Salim Seggaf Al-Jufri dan Ustaz Abdul Somad.

Sementara, tambah Nyarwi Ahmad, Partai Demokrat juga menyodorkan AHY yang dipertimbangkan Prabowo Subianto sebagai cawapresnya.

Baca: Pengamat Nilai Jokowi dan Prabowo Subianto Dilema Tentukan Cawapres Gara-gara Hal Ini

"Sebagai gerakan Islam populisme, Ijtima Ulama itu pressure group juga bagi Prabowo," ujarnya dalam diskusi Pilpres, Ijtima Ulama, dan Kepemimpinan dalam Islam, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (5/8/2018).

Hal tersebut dikatakan Nyarwi Ahmad, karena Ijtima Ulama berasosiasi dengan kelompok elite yang mewakili gerakan populisme Islam.

"Maka, siapa pun yang gagal menentukan cawapres, terutama yang punya daya magnetik ke kalangan kelompok Islam, punya potensi kalah dalam pilpres," tuturnya.

Baca: Faisal Basri: Siapa Bilang Indonesia Sekarang Kaya?

Itu karena, ujar Nyarwi Ahmad, Islam di Indonesia sangat dominan, apalagi diiiringi narasi populisme Islam yang tengah menguat.

Namun, Nyarwi Ahmad menegaskan, ini hal yang juga akan terjadi pada kubu petahana jika Jokowi gagal menentukan cawapresnya.

"Sekarang posisi ulama semakin kuat, dan ini juga perlu dipertimbangkan juga untuk prioritas cawapres," paparnya.

Baca: Pergoki Suami Selingkuh, Istri Babak Belur

Dengan adanya kaitan antara simbolisasi ulama dan narasi populisme Islam yang menguat, menurut Nyarwi Ahmad, maka kinerja partai akan semakin ringan.

"Maka itu, dua-duanya menurut saya harus kerja keras dalam memilih cawapres dalam kaitannya yang punya magnet ke kalangan Umat Islam," ulas Nyarwi Ahmad. (*)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved