Seribuan Pengusaha Tempe-Tahu di Jakbar Belum Mendapat Binaan OK-OCE

SEBANYAK 1.417 pengusaha tempe-tahu di Jakarta Barat, sampai saat ini belum mendapatkan pembinaan khusus dari program OK-Oce.

Seribuan Pengusaha Tempe-Tahu di Jakbar Belum Mendapat Binaan OK-OCE
Kompas.com/Taufiqurrahman
ILUSTRASI Proses pembuatan tahu di sebuah pabrik tempe-tahu. Tampak pekerja di sebuah perusahaan tahu di Pamekasan, yang mampu bertahan dengan mencampur kedelai lokal dengan kedelai impor. Selain itu ukuran tahunya juga diperkecil. 

SEBANYAK 1.417 pengusaha tempe-tahu di Jakarta Barat, sampai saat ini belum terdaftar program OK-OCE, sehingga belum mendapatkan pembinaan khusus dari program ini.

Soal ini dikatakan langsung oleh Kepala Suku Dinas (Kasudin) Perindustrian dan Energi (PE) Kota Jakarta Barat, Ery Gazhali.

"Ada 1.417 pengusaha tempe-tahu di wilayah Jakarta Barat. Paling banyak itu, di Semanan, Kecamatan Kalideres, jumlahnya 1227 pelaku usaha. Mereka sudah terorganisir dalam suatu kelompok koperasi. Hanya saya, mereka tidak masuk dalam program OK-OCE," kata Ery, pada Sabtu (5/8/2018).

Menurutnya, industri tempe dan tahu terbilang banyak berdiri di Jakarta Barat, dan menyebar pada delapan kecamatan. Hasil produksinya di Jakarta Barat juga disebar di wilayah sekitaran Kawasan Tangerang.

Ia mengatakan walau tak terbina oleh program OK-OCE ribuan pengusaha tempe-tahu ini pun masih bisa terpantau, lantaran telah tergabung di berbagai koperasi. Setiap bulannya sidak itu dilakukan ke pelaku usaha tersebut.

Bahkan, pihaknya tengah memfokuskan pada pemeriksaan bahan baku, terkait mengandung zat berbahaya seperti formalin, atau tidak.

Kini di hasil pemeriksaan terakhir, Ery mengklaim, tidak ditemukan adanya tahu dan tempe mengandung zat negatif.

"Semuanya dalam kondisi baik. Akan tetapi tak jamin terhadap home industri lainnya, lantaran cukup banyak juga perusahaan industri seperti itu ilegal, dan mungkin olahan tempe-tahunya mengandung zat berbahaya."

"Karena tak terlalu diawasi oleh kami. Begitu pun terkait buangan limbahnya. Bisa saja, industri ilegal itu sengaja buang limbah ke sungai," paparnya.

Tak Berdekatan

Menurut Ery kembali, ciri khas industri ilegal di semua wilayah termasuk Jakarta Barat terlihat memisahkan diri ataupun tak ingin berdekatan dengan industri yang legal. Maka dari itu, ucap Ery, pembinaan terhadap pelaku usaha industri sangat penting.

"Namun sayangnya pembinaan tersebut belum dapat diberikan. Lantaran mereka tidak masuk dalam program OK-OCE. Hal ini dilakukan tidak tanpa alasan. Kami sementara ini, mendahului para pelaku usaha kuliner siap saji dulu dalam dipembinaan OK-OCE. Kalau di tahun ini belum kami masukan dalam pembinaan OK-OCE dulu ya," ungkapnya.

Ia mengklaim kembali sejumlah usaha industri tempe - tahu di tahun 2019 mendatang, segera diupayakan dimasukkan dalam di program OK-OCE.

"Kami pun prioritaskan dulu para pelaku usaha kuliner siap saji dulu. Sebab, hal itu dinilai lebih membutuhkan. Mereka yang usaha kuliner, tak hanya membutuhkan cara bagaimana menghasilkan produk yang baik, melainkan juga bagaimana cara mengemas dan memasarkannya," ungkap Ery.

Penulis: Panji Baskhara Ramadhan
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help