Kolom Mas Pro

TGB Zainul Majdi Jelaskan Cara Berdakwa di Nusantara yang Pas: Jangan Sok Tahu dan Paling Pintar!

TGB mengingatkan cara berdakwa yang pas untuk kondisi Indonesia atau Nusantara. "Jangan sok tahu dan merasa paling pintar."

TGB Zainul Majdi Jelaskan Cara Berdakwa di Nusantara yang Pas: Jangan Sok Tahu dan Paling Pintar!
@tuangurubajang
Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi menjelaskan konsep berdakwah di Nusantara atau Indonesia. 

TUAN Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mengingatkan cara berdakwa yang pas untuk kondisi Indonesia atau Nusantara.

TGB Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), cara yang cerdas dalam berdakwah adalah tidak melakukan aktivitas yang frontal yang bertentangan dengan budaya atau nilai-nilai yang sudah ada.

Menurut TGB Zainul Majdi, metode berdakwah yang dilakukan para ulama, dai, dan wali atau yang dikenal dengan sebutan Wali Songo selalu menggunakan pendekatan damai, persuasif, dan subtantif.

"Para ulama cerdas bermetode dakwah dengan tidak langsung frontal menyampaikan ajaran dengan menghapus nilai-nilai kebaikan yang sudah ada, melainkan dengan menyerap budaya dan kearifan masyarakat lokal," ujar TGB Zainudl Majdi dalam akun instagramnya, Sabtu (4/8/2018) sejam lalu.

Baca: Mengaku Takut Menikah, Hari Ini Denny Sumargo Lamar Dita Soedarjo

Baca: Jenazah Pria Mengapung di Dekat Perumahan Kemang Pratama Bekasi, Diduga Bunuh Diri karena Depresi

Dia menambahkan, "Pelajaran paling penting dari dakwah para Dai, Ustadz, Kyai, Habaib maupun Wali Songo zaman dahulu bukan sebagai orang paling tahu atau sok tahu."

Simak status TGB di akun instagramnya berikut ini.

@tuangurubajang: Ketika para ulama, dai dan wali (Sembilan Wali/ Wali Songo) berdakwah di berbagai sudut wilayah Nusantara, selalu menggunakan pendekatan yang persuasif, damai namun tetap substantif.

Baca: Hari Pertama Pendfataran Capres Prabowo Subianto Unggah Foto Mesra dengan Titiek Soeharto Viral

Para ulama cerdas bermetode dakwah dengan tidak langsung frontal menyampaikan ajaran dengan menghapus nilai-nilai kebaikan yang sudah ada, melainkan dengan menyerap budaya dan kearifan masyarakat lokal.

Dengan catatan, tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran Islam itu sendiri.

Pelajaran paling penting dari dakwah para Dai, Ustadz, Kyai, Habaib maupun Wali Songo zaman dahulu bukan sebagai orang paling tahu atau sok tahu.

Halaman
123
Penulis: Suprapto
Editor: Suprapto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved