Teknologi Plasma Nano Bubble untuk Mendukung Penyebaran Mikroba

Yang tidak butuh oksigen yang bikin bau, sementara kita butuhkan bakteri yang menguraikan.

Teknologi Plasma Nano Bubble untuk Mendukung Penyebaran Mikroba
Warta Kota/Rangga Baskoro
Sampah yang menumpuk di Kali Sentiong, Kamis (8/12/2018). 

PIHAK Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memasang dua unit plasma nano bubble di Kali Sentiong, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Setiap unit plasma nano bubble dihargai senilai Rp 50 juta.

Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, Anto Tri Sugiarto mengatakan plasma nano bubble yang dipasang merupakan hasil penelitian dalam negeri serta memiliki daya yang rendah.

“Ini kan hasil penelitian, kalau ini lokal bisa tergantung kapasitasnya, ini yang satu horse power harganya Rp 50 jutaan, ini baru 2 unit dari rencana 20 unit,” ungkap Anto, Kamis (2/8/2018).

Anto mengatakan pemasangan plasma nano bubble juga untuk membantu mikroba yang sebelumnya telah disebarkan di Kali Sentiong.

Pasalnya alat tersebut memberikan oksigen yang cukup untuk membantu mikroba bekerja secara maksimal.

“Mikroba itu butuh oksigen, jadi oksigen itu yang kami berikan dalam bentuk nano untuk bisa larut. Karena ini oksigennya 0,9, rendah sekali,” ucap Anto.

“Bakteri kan ada dua, ada yang butuh oksigen ada yang tidak. Nah yang tidak butuh oksigen yang bikin bau, sementara kita butuhkan bakteri yang menguraikan, nah itu butuh oksigen,” sambungnya.

Menurut Anto untuk menghilangkan 100 persen masalah bau tidak sedap dari Kali Sentiong, bakteri yang berada di dasar kali harus diolah sedemikian rupa agar bisa dihilangkan.

Selain itu sedimen yang mengendap di dasar kali juga harus dihilangkan.

Hanya saja untuk menghilangkan sedimen tersebut harus dilakukan dengan cara yang benar agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

“Jadi, harusnya sedimennya diangkat dulu terus tepinya dikasih tiang-tiang. Jadi ketika sedimannya diambil, tidak rubuh. Ini sudah ada 2-3 meter lumpur di bawah, kalau saya ambil air dari atas nggak item, tapi lumpur yang bawah bau banget, itu bakterinya,” ucapnya.

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved