Konten Boneka Momo Dikirim WhatsApp Bisa Memicu Bunuh Diri?

Orangtua harus hati-hati kepada anak saat main smartphone dan mengakses aplikasi WhatsApp ada konten permainanan boneka Momo.

Konten Boneka Momo Dikirim WhatsApp Bisa Memicu Bunuh Diri?
Kompas.com
Anak kecil saat ini pandai dan pintar memainkan gadget. 

WARTA KOTA, PALMERAH---Bagi orangtua yang memberikan akses gawai atau gadget smartphone kepada anak, kali ini harus lebih berhati-hati dengan berbagai konten yang berada di dalamnya.

Setelah beberapa waktu lalu aplikasi WhatsApp mengehebohkan orangtua karena adanya pornografi pada fitur GIF di dalamnya, kali ini ada yang baru.

Dilansir dari Daily Mirror, orangtua dibuat resah dengan kemunculan permainan boneka Momo yang disinyalir hampir sama dengan permainan Blue Whale.

Permainan sejenis ini diduga memicu anak-anak untuk melakukan hal-hal ekstrim seperti misalnya bunuh diri.

Dimulai dari mengirimkan pesan kepada kontak Momo melalui aplikasi WhatsApp, korban akan terus menerus diteror salah satunya dengan gambar kekerasan yang dikirimkan.

Apabila tidak mengikuti aturan permainan, korban akan terus menerus diteror dengan ancaman-ancaman.

Sementara itu tampilan Momo yang tertera dalam WhatsApp terlihat seram dengan wajah yang kurus dan mata bulat serta menonjol.

Baca: Diduga Putus Cinta, Seorang Pemuda Bunuh Diri di Rel Kereta Api di Bojonggede

Sebenarnya tampilan Momo itu merupakan karya desainer asal Jepang, Midori Hayashi, yang tidak bertujuan awalnya untuk membuat ikon Momo menjadi permainan menyeramkan.

Kepolisian di Argentina sedang melakukan investigasi terhadap kejadian bunuh diri gadis berusia 12 tahun di kota Ingeniero Maschwitz dekat Buenos Aires terkait dengan Momo.

Diduga gadis tersebut melakukan permainan Momo tersebut dalam aplikasi Whatsapp dan mengabadikan dalam video.

Baca: Buntut Aksi Bunuh Diri 2 Anak, Arab Saudi Larang 47 Judul Video Game 

Seorang ahli mengingatkan kepada orangtua untuk memberi pengertian kepada anak-anaknya bahwa mereka harus mendiskusikan tindakan-tindakan yang akan diambil.

"Meyakinkan seorang anak bahwa mereka masih dapat diterima meskipun mereka tidak ikut dengan kerumunan (tren) akan membantu menghentikan mereka melakukan sesuatu yang dapat menyakiti mereka atau membuat mereka tidak nyaman," katanya.

Penulis: Yosia Margaretta
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved