Karina Ayu Ghimas Designer Of The Year Istituto Marangoni Milan

Berkat konsep designnya yang memadukan unsur Western dengan etnik Indonesia membuat karyanya berbeda dengan fashion designer lainnya

Karina Ayu Ghimas Designer Of The Year Istituto Marangoni Milan
dokpri

design

WARTA KOTA, SENAYAH  -----  Desainer muda kreatif, Karina Ayu Ghimas baru saja menyabet gelar yang membanggakan nama Indonesia di mata dunia internasional, ia baru saja didaulat menjadi Designer of the Year dari Istituto Marangoni di Fashion Design Award 2018 International School Womenswear Collection of the Year, Milan, Italy.

Berkat kemampuan dan keahliannya merangkai konsep designnya yang memadukan unsur Western dengan etnik budaya Indonesia, membuat karyanya berbeda dengan fashion designer lainnya yang berasal dari Milan, Paris dan London.

Karina menyajikan karya berupa Topi Padang khas Provinsi Sumatera Barat yang menjadi pilihan utama konsepnya di pagelaran bergengsi itu.

Produk Topi Padang yang bentuknya unik dan menarik, memang sudah tidak asing lagi bagi orang Indonesia, dari idenya itu, ia mengkolaborasi pola Topi padang menjadi lebih memiliki nilai yang lebih dengan cara menambahkan bulu-bulu dan  menggabungkannya dengan berbagai jenis aksesoris berupa tas pelana kuda di beberapa bagiannya, membuat karyanya itu lebih berkarakter dan punya ciri khas tersendiri.

Selain itu tampilan karya roknya terinspirasi dari gaun khusus untuk berkuda kaum wanita kaum elite di era abad ke-19, bahan gaunnya merupakan bahan kain yang sesuai dikenakan wanita berkuda dengan ragam corak bergaris pada bahannya, yang terbuat dari kain songket Indonesia dalam desain gaunnya,

 “Aku akan berupaya untuk sebisa mungkin untuk selalu menggunakan elemen Indonesia dalam setiap karya dan koleksiku yang dengan tehnik tertentu aku membuatnya terlihat modern yang unik dengan paduan yang unik dan menarik untuk dilihat dan nyaman untuk dikenakan”, kata Karina, Kamis (2/8/2018) di Jakarta.

Sementara itu sebagai pelengkap, pada bagian penutup kaki, dia terinspirasi dari gaya sepatu boot khusus untuk berkuda wanita Eropa abad ke-19, dengan memberikan tambahan detail berupa tali-tali yang membuatnya terlihat indah” dan elegan.

“Aku sangat memperhatikan semua detail desain termasuk bahannya, mulai dari pattern making, sewing, pemilihan bahan, hingga pemilihan benang dan teknik menjahitnya, agar sesuai dengan hasil yang diinginkan, walaupun sudah mempunayi penjahit sendiri, tetap sang desainer yang paling mengetahui bagaimana hasil akhir baju itu yang sesungguhnya”. Ujar pengagum desainer Mel Ahyar, Sapto Djojokartiko dan Maison Margiela ini

Perlu diketahui, desainer yang karya karyanya akrab dengan tema tradisional ini sudah terlihat bakatnya di bidang fashion sejak masih berumur 9 tahun meskipun cumabisa melihat teman-temannya saat ada pagelaran fashion show di daerahnya,

 “Aku jadi merasa iri saat melihat mereka mengenakan pakaian yang bagus dan keren dengan warna dan motif yang beragam, dan itu memberi inspirasi padaku untuk membuat sendiri rancangan baju yang ternyata tanpa disadari yelah membuka jalan dan membuatnya bercita-cita menjadi desainer”, ucap perempuan keahiran 1997 ini.

Untuk mengasah kemampuan dan bisa meraih cita citanya sebagai seorang desainer profesional, Karina mewujudkannyadengan menempuah pendidikan di bidang fashion design di Istituto Maragoni, Milan, Italia.

“Saat menimba ilmu di bidang fashion inilah, kemampuan dan pola pikir aku tentang fashion mulai berubah dan semakin terasah, dulu aku berpikir kalau fashion designer itu all about making gowns and dresses, tapi ternyata tidak seperti yang aku pikirkan sebelumnya, ungkapnya.

Penulis: Nur Ichsan
Editor: m nur ichsan arief
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help