Alasan Presiden Jokowi Serahkan Pengelolaan Blok Rokan Kepada Pertamina

KEMENTERIAN ESDM RI menunjuk PT Pertamina sebagai pengelola Blok Rokan hingga tahun 2040.

Alasan Presiden Jokowi Serahkan Pengelolaan Blok Rokan Kepada Pertamina
tribunnews
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar saat konferensi pers mengenai penetapan Pertamina sebagai operator Blok Rokan di Kantor ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (31/7/2018). 

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia justru menunjuk PT Pertamina sebagai pengelola Blok Rokan hingga tahun 2040 mendatang.

Alasannya diungkapkan Staf Khusus Bidang Komunikasi Kementerian ESDM, Hadi M Djuraid karena penawaran yang lebih menguntungkan dibandingkan Proposal yang diajukan oleh PT Chevron Pacific Indonesia (CPI).

Alasan itu disampaikan Hadi lewat akun twitternya @HadiMDjuraid pada Rabu (1/8/2018). Mengawali kicauannya, Hadi mengucapkan selamat atas kembalinya Blok Rokan ke pangkuan ibu pertiwi.

Menurutnya, pengambilalihan blok eksplorasi minyak dan gas (migas) terbesar di Indonesia itu merupakan kado indah jelang Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke 73 mendatang.

"Rokan adalah blok onshore terbesar Indonesia. Rata2 produksi 207,148 barel per hari, dengan cadangan hingga 1,5 miliar barel. Wajar jika banyak kontraktor migas besar tertarik utk mengelolanya," ungkapnya.

Terkait perebutan pengelolaan, Menteri ESDM Ignasius Jonan katanya membentuk Tim 22 Wilayah Kerja yang bertugas mengevaluasi blok-blok migas yang telah habis masa kontrak, termasuk evaluasi proposal yang diajukan PT Pertamina dan PT CPI terhadap Blok Rokan.

"Parameter yg digunakan adalah ekonomi dn bisnis, dlm kerangka kepentingan nasional, bukan parameter politik tekanan publik, dll. Yang dipilih adalah proposal yg paling mmberi nilai lebih dan keuntungan maksimal bagi negara," jelasnya.

Oleh karena itu, Ignasis Jonan katanya menetapkan owner estimate atau menghitung dengan teliti berapa nilai kewajaran blok migas tersebut. Sehingga dirumuskan tiga variabel utama penilaian, antara lain minimal signature bonus yang harus dibayar kepada pemerintah, komitmen kerja pasti, dan diskresi untuk besaran split antara pemerintah dan kontraktor.

Lewat pertimbangan, Blok Rokan yang telah 50 tahun dikelola PT CPI akan dikelola Pertamina setelah habis masa kontrak tahun 2021. Pengelolaan akan diterapkan sistem gross split atau bagi hasil.

"Penetapan ini adalah tahapan paling krusial proses ini. Pertamina diputuskan sbg pengelola Blok Rokan krn proposal yg lebih baik: signature bonus USD 784 juta atau Rp 11,3 triliun, komitmen kerja pasti USD 500 juta (Rp 7,2 triliun), dn diskresi 8%," jelasnya.

Halaman
123
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved