Asian Games 2018

Pengamat: Pemasangan Waring Kali Item Tidak Efektif karena Terbukti Baunya Tidak Berkurang

Umi Lutfiah mengatakan, pemasangan kain waring untuk mengurangi bau busuk Kali Item di Jakarta adalah sangat tidak efektif.

Pengamat: Pemasangan Waring Kali Item Tidak Efektif karena Terbukti Baunya Tidak Berkurang
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Foto aerial atau foto yang diambil dari ketinggian suasana Kali Item, Kemayoran, Jakarta Utara, ditutupi jaring hitam untuk menutupi limbah yang mengalir di kali tersebut, Kamis (26/7/2018). 

PENELITI Bidang Sosial The Indonesian Institute, Umi Lutfiah mengatakan, pemasangan kain waring untuk mengurangi bau busuk Kali Item di Jakarta adalah sangat tidak efektif.

"Upaya yang jelas sangat tidak relevan untuk dilakukan adalah pemasangan kain waring. Pemasangan ini hanya akan menambah bengkaknya biaya operasional," kata Umi melalui siaran persnya di Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Terbukti, setelah pemasangan kain waring di Kali Item, baunya tidak juga berkurang.

Menurut dia, ada dua hal yang patut diperhatikan dalam penanganan Kali Item ini.

Pertama, penguatan koordinasi antarpihak yang peduli terhadap Kali Item.

Koordinasi sangat diperlukan agar upaya yang dilakukan lebih masif dan terstruktur sehingga tingkat keberhasilannya akan lebih tinggi.

"Koordinasi penting dilakukan untuk menghindari saling klaim jika bau Kali Item sudah dapat diatasi," katanya.

Kedua, fokus penanganan pada upaya pencegahan.

Menurut dia, data dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan bahwa 75 persen pencemaran air sungai di DKI Jakarta disebabkan oleh limbah domestik yang berasal dari limbah rumah tangga, perkantoran, toko, pasar, mal, hotel, dan sekolah-sekolah baik grey water (air bekas) ataupun air kotor/tinja(black water)).

"Fakta tersebut harusnya kembali menyadarkan pemerintah untuk berupaya mengendalikan air limbah domestik ini," katanya.

Ada pun cara jangka panjang yang dapat dilakukan adalah dengan membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Umumnya satu IPAL bisa menampung pengolahan limbah 150 kepala keluarga dengan biaya Rp100 juta.

Namun pembangunan IPAL juga akan terkendala biaya pengalihan lahan yang besar.

"Satu IPAL butuh lahan 500 meter persegi," katanya.

Umi mengatakan, tingginya biaya pembangunan IPAL sebenarnya bisa disiasati pemerintah DKI Jakarta dengan memanfaatkan tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan-perusahaan swasta yang menaruh perhatian pada isu sanitasi.

"Dengan memanfaatkan peran swasta dalam penanganan masalah ini, diharapkan beban penanggulangan masalah Kali Item tidak hanya ada di tangan pemerintah," katanya.

Berbagai upaya pembersihan kondisi Kali Item dari sejumlah pihak sudah dilakukan mulai dari Pemprov DKI Jakarta, Pemerintah Pusat, Keluarga Besar Alumni UGM DKI Jakarta (Kagama).

Upaya yang sudah dilakukan mulai dari pemasangan kain waring, aerator, nano bubble, blower, surface aerator, rekayasa aliran air, penyemprotan cairan penghilang bau, penyemprotan cairan mikroba, dan menabur bubuk penghilang bau.

"Nano bubble memang bisa digunakan namun sangat tergantung dari seberapa besar tingkat pencemarannya. Sedangkan biaya nano bubble jelas tidak murah," katanya. (Antara)

Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved