Warganya Jadi Korban Trafficking , Dedi Mulyadi Sambangi Kementerian Luar Negeri

Khawatir dengan nasib warganya yang menjadi TKI di Tiongkok, Dedi Mulyadi mendatangi Gedung Direktorat WNI dan Badan Hukum Indonesia.

Warganya Jadi Korban Trafficking , Dedi Mulyadi Sambangi Kementerian Luar Negeri
Dedi Mulyadi (Foto Tim Advokasi Dedi Mulyadi) 

KHAWATIR dengan nasib warganya yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Tiongkok, Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mendatangi Gedung Direktorat Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia, Kompleks Kementerian Luar Negeri di Jalan Pejambon, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, (30/6/2018).

Kedatangan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat itu hendak melakukan advokasi terhadap dugaan pergadangan manusia yang dialami warganya. Diketahui, terdapat sebanyak 16 orang perempuan yang kini menjadi korban.

"Ada 16 korban perempuan yang diperdagangkan di China dengan modus baru, yakni kawin kontrak," kata Dedi dalam siaran tertulis,l di Kompleks Kemenlu, Gambir, Jakarta Pusat pada Senin (30/7/2018).

Lebih lanjut diungkapkannya, korban perdagangan manusia yang berasal dari Purwakarta hanya sebanyak dua orang, namun Dedi mengaku akan memperjuangkan kepulangan seluruh korban.

Tangkap penyalur

Sementara, terkait pelaku yang berperan sebagai penyalur di Indonesia, Polda Jawa Barat katanya telah berhasil menangkap dua orang tersangka.

Seorang pelaku Warga Negara Indonesia (WNI) asal Kalimantan dan seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok.

"Laporan ini merupakan tindak lanjut dari aspek pidana yang sudah ditangani Polda Jabar," kata dia.

Oleh karena itu, Dedi mendesak Kementerian Luar Negeri segera melakukan percepatan advokasi dan mendesak kepolisian China untuk mengadili pelakunya.

"Melalui pendekatan jalur ini kita berharap pemerintah China (Tiongkok) segera mengembalikan warga kita. Kalau tidak, kita yang akan mengawal sampai mereka kembali," katanya.

Sementara itu, salah satu orang tua korban, Nur Hidayat (53) meminta pemerintah Indonesia segera melobi pemerintah China untuk memulangkan anaknya yang masih di bawah umur.

Ia khawatir terjadi sesuatu jika terus menerus bertahan di sana.

"Mohon segera dipulangkan. Anak saya nangis melalui sambungan telepon. Aku kan kaget anak di bawah umur KTP belum punya tanpa izin orangtua dia bisa pergi ke China. Apalagi dengan alasan dia ingin dinikahi secara kontrak," ujarnya. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved