Setelah Negosiasi Bertahun-tahun PKL Pondok Labu Menyerah

300 pedagang kaki lima di Pondok Labu, memilih berbesar hati dan memindahkan lapaknya

Setelah Negosiasi Bertahun-tahun PKL Pondok Labu Menyerah
Warta Kota
Penertiban PKL Pondok Labu 

Sekitar 300 pedagang kaki lima yang selama ini memenuhi area trotoar sepanjang sekitar satu kilometer di Pondok Labu, memilih berbesar hati dan memindahkan lapaknya ke dalam area pasar. Keputusan ini dilakukan setelah beberapa waktu lalu, Walikota Jakarta Selatan Marullah Maruli datang ke lokasi itu dan meminta agar trotoar steril dari PKL.

Hardie selaku Kepala Satuan Tugas Polisi Pamong Praja Kelurahan Pondok Labu mengatakan, dalam penataan lanjutan yang berlangsung Selasa (31/7/2018) sebagian pedagang telah beralih ke dalam area pasar.

"Di sini ada lima pasar yaitu PD Pasar Jaya, Pasar kopedasi, Pasar Tempel, Pasar Swadaya, Pasar Taman. Semua pasar lokasinya berdempet dan di depan area pasar sebelumnya dipenuhi PKL. Sekarang sudah pada masuk," kata Hardie ditemui Warta Kota di Pasar Pondok Labu, Selasa (31/7).

Hardie mengakui, proses penataan memang tidak mudah. Negosiasi dengan pedagang, kata dia, dilakukan sejak tujuh bulan lalu. "Ya begitulah, memang butuh perjuangan. Termasuk mengajak bicara para tokoh masyarakat dan tokoh pemuda di sini. Kami arahkan pedagang pelan-pelan dan sekarang mereka sudah sadar mau masuk pasar," imbuhnya.

Kawasan Pondok Labu memang yang dikenal sebagai simpul macet di Jakarta Selatan, menjadi sorotan para pemangku wilayah. Bertahun-tahun Pemkot Jakarta Selatan dibuat pusing dengan pola penataan yang tepat. Banyaknya pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya di trotoar, bahkan di bahu jalan, masalah parkir liar, membuat sepanjang jalan yang menghubungkan Jakarta dan Depok itu tersendat. Pada jam sibuk, kemacetan bisa bertambah akut.

Lurah Pondok Labu, Siti Fauzia Ghozali mengungkapkan, butuh kesabaran dan kerja keras dalam menata kawasan sekitar Pasar Pondok Labu.

"Ini memang bukan pekerjaan mudah. Tapi saya selalu anggap sebagai tantangan bagaimana menata kawasan perbatasan seperti Pondok Labu ini. Ini daerah perlintasan. Ditambah aktifitas di lima pasar yang berdekatan," kata Siti Fauzia.

Untuk masalah parkir liar, Siti mendorong agar pengunjung bisa parkir di Dislitbang AL dan Pusdatin yang ada di seberang pasar. Sedangkan para ojek pangkalan yang kerap memenuhi bahu jalan, didorong masuk ke dalam area parkir PD Pasar Jaya.

Berhasil menghalau PKL masuk ke dalam area pasar, bukanlah akhir perjuangan bagi lurah cantik ini. Selanjutnya, ia mengungkapkan, penataan akan dilakukan untuk trotoar serta saluran air demi terciptanya Pondok Labu yang lebih baik.

Salah seorang pedagang buah di depan Pasar Swadaya, Ahmad Yani (40) mengaku ikhlas harus menggeser lapaknya beberapa meter. Sebelumnya, lapaknya berada di atas trotoar bersama lapak pedagang lainnya.

"Ya tidak apa-apa. Sekarang lapaknya jadi mengecil aja. Dulu dagangan saya dan kawan-kawan memang menutup trotoar. Bahkan banyak juga yang jualan di bahu jalan," kata Yani.

Yani bilang, upaya menata pedagang di kawasan itu memang sudah lama. Pada masa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama, Satpol PP sempat meminta pedagang agar masuk ke area pasar.

Namun, sejumlah pedagang tak mengindahkan dan tetap berjualan di trotoar atau bahu jalan. Sesudah itu, lama tak terdengar lagi upaya penataan hingga pada awal Anies Baswedan dilantik, pedagang kembali diajak musyawarah soal penataan Pondok Labu.

"Memang pada ga suka jualan di dalam (pasar). Di sana sepi," Yani bilang begitu.

Pantauan Warta Kota, Selasa petang atau saat jam pulang kerja, lalulintas kawasan itu tetap macet. Namun tidak separah biasanya. Saat senja menjadi gelap, sejumlah pedagang gerobak mulai berdatangan dan mengais nafkah seperti biasanya. Para pengojek konvensional juga masih mangkal di sepanjang bahu jalan, menawarkan jasa kepada setiap pejalan kaki

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: ahmad sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved