Novel Baswedan Diteror

KPK Gelar Sayembara Berhadiah Sepeda untuk Ungkap Penyerang Novel Baswedan, Sindir Jokowi?

Wadah Pegawai KPK menyiapkan satu unit sepeda bagi masyarakat yang bisa mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

KPK Gelar Sayembara Berhadiah Sepeda untuk Ungkap Penyerang Novel Baswedan, Sindir Jokowi?
TRIBUNNEWS/THERESIA FELISIANI
Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar sayembara berhadiah satu unit sepeda, bagi masyarakat yang bisa mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. 

WADAH Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyiapkan satu unit sepeda bagi masyarakat yang bisa mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Bukan tanpa alasan, hal ini dilakukan  karena sudah 16 bulan kasus tersebut tidak kunjung terungkap, termasuk tak kunjung dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Pantauan Tribunnews.com, sepeda tersebut sempat dipamerkan di lobi Gedung KPK, bersamaan dengan penyambutan kedatangan penyidik senior tersebut.

Baca: Ketua KPK: Selamat Datang Novel Baswedan, Anda akan Bertugas Seperti Semula Tanpa Ada Mutasi

"‎Kami akan memberikan hadiah berupa sepeda dari Wadah Pegawai KPK ke rakyat Indonesia, yang sanggup bongkar pelaku penyerangan Novel," ujar Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo di lobi Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/7/2018).

Pernyataan Yudi langsung disambut tepuk tangan meriah pegawai KPK. Yudi menyampaikan, nantinya sepeda tersebut terus berada di lobi KPK untuk bisa dilihat oleh masyarakat.

‎"Sepeda ini sebagai simbol bahwa kita tidak akan pernah berhenti untuk mendukung pengungkapan kasus Bang Novel," tuturnya.

Baca: Novel Baswedan Kangen Semangat Kerj

Baca: Ini yang akan Dilakukan Novel Baswedan pada Hari Pertama Kembali Berkantor di KPK

a di KPK

Sayembara berhadiah sepeda ini meniru Presiden Jokowi yang kerap memberikan kuis berhadiah sepeda, saat melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah.

Di hari pertamanya kembali berkantor, Novel Baswedan dengan tegas menyatakan Polri tidak mau mengungkap kasus penyiraman air keras yang ia alami.

Sejak peristiwa tersebut terjadi pada 11 April 2017 atau hampir 16 bulan berlalu, sampai detik ini pelaku penyiraman air keras tidak terungkap.

"Saya menyampaikan, saya mendesak Presiden dalam beberapa kesempatan. Kenapa? Kenapa saya tidak ke Kapolri atau institusi Polri? Saya tegaskan polisi tidak mau ungkap ini. Makanya saya minta ke atasan polisi untuk ungkap," tegas Novel di KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

Novel mengaku tidak akan tinggal diam untuk terus menggelorakan dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPT) ke Presiden.

"Upaya saya ini bukan dendam atau marah saya sebagai korban.‎ Saya akan terus sampaikan ini, inilah perjuangan saya. Semoga elemen bangsa mau sungguh-sungguh berantas korupsi," paparnya. (*)

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved