Bambang Pamungkas Makan Gudeg Bersejarah Sebelum Persija Jakarta vs Bhayangkara FC

BAMBANG Pamungkas, kapten Persija Jakarta, memilih makan gudeng bersejarah di Yogyakarta sebelum pertandingan.

Bambang Pamungkas Makan Gudeg Bersejarah Sebelum Persija Jakarta vs Bhayangkara FC
instagram @thenekatchef
Bambang Pamungkas mampir di lapak gudeg bersejarah sebelum pertandingan Persija Jakarta vs Bhayangkara FC. 

Saat ini, setiap hari Mbah Lindu berjualan dibantu oleh anak kelimanya, Ratiah (50). Namun, Ratiah hanya membantu untuk penghitungan uang.

Mbah Lindu sendiri tetap yang mengerjakan penyajian makanan di atas piring atau bungkusan. Meski hanya di depan poskamling dan berada di pinggir jalan, tetapi pembeli Gudeg Lindu cukup bervariasi, mulai dari masyarakat Yogyakarta, tukang becak, mahasiswa, sampai wisatawan lokal maupun asing.

Bahkan, menurut Ratiah, sejumlah orang terkenal di Indonesia juga masih sering memesan gudegnya. "Ada pakar kuliner Indonesia Willi Wongso, lalu perancang busana terkenal itu siapa saya lupa, juga sering ke sini. Yang pakar kuliner itu sampai perintah sopirnya untuk beli lalu dibawa ke Jakarta," tuturnya.

Tak hanya orang Indonesia, sejumlah turis mancanegara juga pernah mampir karena mendengar ketenaran gudeg buatannya.

"Beberapa kali ada wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang ke sini. Lalu pesan beberapa besek untuk dibawa ke negaranya," ungkap Mbah Lindu.

Pertahankan cita rasa

Mbah Lindu juga berusaha mempertahankan resepnya. Meski sudah lanjut usia, dia masih meracik bumbu dan mengolah gudeg dengan tangannya sendiri demi mempertahankan cita rasa asli gudeg buatannya.

"Resep masih seperti dulu, tidak pernah berubah sama sekali. Jenisnya juga masih sama, krecek, gudeg, tahu tempe, dan telur ayam," kata Mbah Lindu.

Mbah Lindu menyajikan makanan khas Yogyakarta ini dengan pincuk, yaitu daun pisang yang dijepit lidi. Gudeg Mbah Lindu buka dari mulai pukul 05.00-10.00 WIB setiap hari.

Saat ini, dia menjual menu gudegnya dengan harga Rp 15.000-Rp 20.000. "Saya mau berjualan terus sekuatnya. Mau diberikan rezeki banyak atau sedikit ya harus tetap disyukuri," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Mbah Lindu dan Gudeg yang Dijual sejak Masa Penjajahan".

Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved