Asian Games 2018

Perusahaan Aplikasi Dituding Sponsori Asian Games 2018 Pakai Keringat dan Darah Pengemudi Ojol

Para pengemudi ojek online juga menuntut pemerintah menekan aplikator agar menerapkan tarif Rp 3.000 per kilometer.

Perusahaan Aplikasi Dituding Sponsori Asian Games 2018 Pakai Keringat dan Darah Pengemudi Ojol
Warta Kota/Henry Lopulalan
RIBUAN pengemudi ojek online (ojol) memadati ruas Jalan Jenderal Gatot Subroto saat aksi unjuk rasa di depan gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (23/4/2018). 

PARA pengemudi ojek online (ojol) mengancam menggelar aksi demonstrasi saat pembukaan Asian Games 2018 pada 18 Agustus mendatang. Mereka menyebutnya aksi 188.

Ketua Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono menjelaskan, aksi unjuk rasa akan berlangsung apabila tuntutan para pengemudi ojol tidak dipenuhi pemerintah dan perusahaan aplikasi penyedia jasa.

"Rencana aksi 188 ojek online, tetap dilaksanakan apabila tuntutan para ojek online tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah dan perusahaan aplikasi yang menjadi sponsor Asian Games," kata Igun kepada Tribunnews.com, Rabu (25/7/2018).

Baca: Ojol Berniat Unjuk Rasa, Menteri Perhubungan: Jangan Demo, Mari Kita Tonton Asian Games

Pada aksi demonstrasi nanti, tuntutan para driver ojol masih soal tarif. Mereka ingin aplikator menyesuaikan tarif seperti saat awal ojol beroperasi di Indonesia, yakni sebesar Rp 3.000 per kilometer. Sedangkan saat ini tarif ojek online rata-rata berkisar Rp 1.200 hingga Rp 1.600.

"Tuntutan utama kembalikan tarif seperti dahulu tahun 2015 di angka Rp. 3.000 per kilometer, bukan menaikkan pendapatan," ujar Igun.

Para pengemudi ojek online juga menuntut pemerintah menekan aplikator agar menerapkan tarif Rp 3.000 per kilometer, untuk lebih menyejahterakan para driver.

Baca: Koalisi Umat Madani Wacanakan Duet Amien Rais dan Prabowo di Pilpres 2019

"Kita hanya menuntut pemerintah agar dapat menekan perusahaan aplikasi mengembalikan tarif seperti dahulu tahun 2015, saat perusahaan aplikasi ini mulai ekspansi di Indonesia," tutur Igun.

Igun menjelaskan, tanggal 18 Agustus atau saat pembukaan Asian Games 2018 dipilih, sebagai bentuk luapan emosi. Sebab, terdapat perusahaan aplikasi yang menjadi sponsor Asian Games 2018.

Sehingga, gelaran Asian Games 2018 mereka duga menggunakan pajak dari para driver yang dipotong dari tarif penumpang, tetapi para driver mengaku tidak pernah diberikan bukti potong atau setor pajak resmi dari Dirjen Pajak.

Baca: Partai Gerindra Duga Kemenangan Ridwan Kamil karena Iriawan Diangkat Jadi Pj Gubernur Jabar

"Perusahaan aplikasi menjadi sponsorship Asian Games dengan menggunakan keringat dan darah para ojek online yang telah gugur di jalanan dalam mencari nafkah," papar Igun.

"Kami ini dipotong 20 persen dari setiap transaksi kami dengan penumpang, hingga kami dikenakan pajak PPh 21 sebesar 6 persen, tapi tidak pernah diberikan bukti potong atau setor pajak resmi dari Dirjen pajak, lalu ke mana uang kami semua tersebut?" sambung Igun. (Apfia Tioconny Billy

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved