Penuturan Mbak Tutut Soal Pidato Terakhir Presiden Soeharto

Tanggal 21 Mei 1998 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari itu, kekuasaan Orde Baru di bawah Pak Harto berakhir.

Penuturan Mbak Tutut Soal Pidato Terakhir Presiden Soeharto
Pak Harto didampingi putri sulungny, Mbak Tutut (Sumber foto : tututsoeharto.id) 

Anak sulung dari presiden ke-dua RI itu lalu membaca bagian yang diinstruksikan oleh bapaknya.

Ternyata pada bagian yang dimaksud tertulis dengan jelas apa yang dikehendaki oleh Pak Harto.

BAB III Pasal 8 UUD 1945 mengatur jika Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya.

“Iya pak, betul ada kata berhenti,” kata Mbak Tutut mengiyakan Pak Harto.

Pak Harto kemudian memerintahkan Mbak Tutut untuk mengambil kertas dan pulpen untuk menulis kalimat yang diucapkannya.

Mbak Tutut mengaku tidak berani bertanya lagi karena mimik muka Pak Harto kelihatan serius.

Saya tulis apa yang bapak katakan. Berdebar jantung saya, dan bergetar tangan ini menulisnya, ternyata bapak membuat pidato berhentinya bapak dari jabatan Presiden RI.

Sambil menulis, tak henti-henti saya berdoa. Yaa Allah, lindungi bapakku, kasihi bapakku, cintailah bapakku, berilah selalu petunjuk Mu, yang terbaik kiranya Engkau berikan pada bapakku, aamiin." Demikian dikisahkan Mbak Tutut.

Akhirnya setelah Pak Harto selesai berucap dan mengoreksi beberapa kalimat, ia membacanya dan mengantongkan kertas yang ditulis Mbak Tutut.

Ternyata, kertas tersebut berisi pidato yang akan disampaikan oleh Pak Harto keesokan harinya sebagai pidato terakhir yang menandai berakhirnya kekuasaan Orde Baru.

Halaman
1234
Penulis:
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved