Dampingi Anak yang Kesulitan Membaca, Bukan Dimarahi

Orangtua perlu mendampingi anaknya yang mengalami disleksia atau kesulitan membaca. Bukan memarahi atau menekannya.

Dampingi Anak yang Kesulitan Membaca, Bukan Dimarahi
istimewa
Seminar tentang disleksia yang digelar Panitia Perayaan Jubilee 100 Tahun Kongregasi Carolus Borromeus di RS St Carolus, Jakarta, Sabtu (21/7/2018). 

APA yang harus dilakukan ketika menghadapi anak atau peserta didik yang mempunyai gejala sulit membaca atau disleksia?

Apakah dengan serta merta kita menganggap bahwa ini merupakan kesulitan besar dalam mendampingi pendidikan anak?

Untuk menjawab pertanyaan itu Seksi Bela Rasa, Panitia Perayaan Jubilee 100 Tahun Kongregasi Suster Carolus Borromeus  Indonesia Jakarta Tangerang menghadirkan dua pembicara  dalam Seminar Awam Disleksia, Sabtu (21/7/2018) di Auditorium RS St Carolus, Jakarta. Acara diikuti para guru sekolah Tarakanita , pemerhati pendidikan dan kesehatan anak,  serta orangtua peduli anak.

Dua pembicara yakni dr Rina Elizabeth, SpA dan Diah Puspasari, M. Psi. dalam pemaparannya  mengajak untuk mengenali dan memahami fenomena disleksia pada anak.

Keduanya meminta orangtua dapat mengambil langkah tepat mendampingi anak-anak yang menderita disleksia.

"Gejala disleksia akan berdampak pada sisi emosi dan sosial ketika  mereka mengikuti belajar di sekolah," tutur Diah.

Seringkali orangtua, guru, dan lingkungan tidak mengerti sehingga malah menekan anak-anak dengan gejala disleksia. Bahkan, yang lebih buruk, mereka dibuli oleh teman-temannya dan malah dimarahi oleh orang tua maupun gurunya.

Diskusi dalam seminar tentang disleksia.
Diskusi dalam seminar tentang disleksia. (istimewa)

Pada umumnya,  orang tua atau guru akan  khawatir dan cemas ketika mengetahui bahwa anak atau peserta didik terdeteksi gejala ini.

"Yang dibutuhkan adalah pendampingan dengan sabar dan konsisten sampai anak-anak itu menemukan kemampuannya secara alami," tutur Diah.

Tanda-tanda disleksia tidak mudah  dikenali pada usia awal anak dan baru akan  dikenali  pada usia sekolah.

Kemampuan membaca yang kurang  dan sulit mengolah  kata yang dialami anak akan   berdampak pada kesulitan belajar.

Kondisi ini bukan berarti anak atau peserta  dikatakan kurang atau bodoh, ada potensi lain yang bisa diasah dan dikembangkan.

“Anak-anak bila menghadapi kesulitan belajar bukan karena malas, tapi karena ada hal lain seperti ketertarikan pada jenis pelajaran atau aktivitas yang lain. Ini yang perlu ditelusuri orangtua dan guru”, tutur Rina.

Dr Chrismini dan drg. Adrian  dari RS St Carolus Jakarta, sebagai pelaksana dan penanggungjawab acara berpendapat bahwa seminar ini menarik dan sangat berguna bagi para orang tua.

Bagi pengajar, seminar ini menambah pengetahuan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi  lebih awal permasalahan dalam proses belajar anak anak.

Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved