Dua Anak Yatim Tak Mampu Masuk SMPN 07 setelah Gagal Ikuti PPDB Online

Dua anak kembar yatim ini tersisih dari persaingan PPDB online jalur zonasi.

Dua Anak Yatim Tak Mampu Masuk SMPN 07 setelah Gagal Ikuti PPDB Online
Warta Kota/Muhammad Azzam
Daniel Aryo Prasetyo (12) dan Deriel Aditya Purnomo (12). Dua anak kembar yatim ini tersisih dari persaingan PPDB online jalur zonasi akhirnya bisa sekolah ke SMP Negeri. 

PETUGAS Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi melakukan penyisiran kepada anak yang kurang mampu di wilayah Kota Bekasi yang gagal masuk SMP Negeri dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online, pada Senin (23/7/2018).

Setelah melakukan koodinasi di lingkungan setempat, ditemukan anak yatim kembar yang kurang mampu di wilayah Kelurahan Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan.

Kedua anak itu bernama Daniel Aryo Prasetyo (12) dan Deriel Aditya Purnomo (12).

Dua anak kembar yatim ini tersisih dari persaingan PPDB online jalur zonasi.

"Ya setelah kita lakukan penyisiran, kita mendapatkan informasi dari RT/RW setempat soal kedua anak yatim ini yang gagal masuk Negeri saat PPDB. Nilai UN keduanya pun lumayan bagus," tutur Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Ali Fauzie, pada Senin (23/7/2018).

Ali mengatakan kegiatan penyisiran ini bertujuan untuk mendapatkan warga yang belum terinduk sekolah. Langkah ini dilakukan sekaligus memaksimalkan sisa 800 bangku kosong pasca pengumuman PPDB online jalur zonasi pada pertengahan Juli kemarin.

"Penyisiran diprioritaskan bagi warga tidak mampu dan anak yatim. Saya juga minta setiap SMP Negeri buka posko pengaduan warga untuk dapat mengakomodir warga yang tak mampu tidak lolos PPDB," ujarnya.

Ali menyatakan langkah penyisiran tidak terlambat. Pasalnya, warga yang berhasil direkrut tidak ketinggalan kurikulum. Pasalnya, pada pekan pertama masuk sekolah baru memasuki tahap masa perkenalan lingkungan sekolah (MPLS).

Hani orang tua kedua anak tersebut, mengaku senang anaknya bisa masuk sekolah negeri.

Dirinya sempat bingung menyekolahkan kedua anaknya ke swasta lantaran tidak ada biaya.

"Iya saya sempat putus asa usai berjuang memasukkan anaknya ke sekolah negeri yang berujung gagal. Syukur ada program penyisiran dari Disdik. Lega jadinya," kata Hani.

Sementara Kepala SMP Negeri 7 Kota Bekasi Markum Sukmajaya memastikan tidak akan ada perundungan maupun diskriminasi terhadap pelajar baru.

"Ya kita siap buka posko pengaduan. Kami juga sudah perintahkan Wali kelas sudah untuk mengawasi, agar tidak boleh ada diskriminasi terhadap siswa baru yang kurang mampu ini," kata Makmur.

Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help