Kampanye Stop Bullying di 13 Kota, KPAI Gandeng Rapper Young Lex

Retno menjelaskan jumlah kasus pendidikan di KPAI per tanggal 30 Mei 2018 berjumlah 161 kasus.

Kampanye Stop Bullying di 13 Kota, KPAI Gandeng Rapper Young Lex
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
KPAI menggandeng penyanyi rap atau rapper muda Young Lex serta artis rumah produksi Surya Film dalam mengkampanyekan Stop Bullying di sekolah-sekolah di 13 kota di Indonesia. 

KOMISIONER Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendiddikan Retno Listyarti mengatakan di era digital saat ini, gadget dengan media sosialnya sudah menjadi keseharian para anak muda, bahkan hingga anak usia Sekolah Dasar (SD).

"Anak-anak sudah aktif di media sosial dan fasih berselancar di dunia maya dengan gadgetnya," kata dia, Minggu (22/7/2018).

Sayangnya kata Retno, di dunia maya-lah yang paling banyak ditemukan perilaku menebar kebencian dan melakukan bullying secara massif oleh orang dewasa.

"Tanpa disadari hal itu bisa sangat cepat ditiru oleh anak-anak dan para remaja yang memiliki akun dan aktif di media sosial. Sebab dalam penelitian, 70 persen perilaku anak adalah meniru," katanya.

Retno menjelaskan jumlah kasus pendidikan di KPAI per tanggal 30 Mei 2018 berjumlah 161 kasus.

Dari jumlah tersebut terungkap bahwa anak korban kasus kekerasan dan bullying mencapai 22,4 persen dan anak pelaku kekerasan dan bullying mencapai 25,5 persen.

"Menurut pengakuan korban, bullying di lakukan secara langsung saat di sekolah dan kerap dilanjutkan di dunia maya yang kerap dikenal dengan istilah Cyber Bully. Tingginya angka kekerasan dan bullying di sekolah menjadi pesan bagi semua orangtua dan guru bahwa para siswa kita rentan menjadi korban dan bahkan pelaku bully, baik di dunia nyata maupun di dunia maya," katanya.

Data tersebut tambahnya diperkuat lagi seperti yang termaktub dalam Ikhtisar Eksekutif Strategi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak  2016-2020 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA).

Dimana dalam data itu menyebutkan bahwa 84 persen siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah atau 8 dari 10 siswa pernah mengalaminya. "Juga 45 persen siswa laki-laki menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan," kata Retno.

Sementara 40 persen siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya dan 75 persen siswa mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah serta 22 persen siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan; dan 50 persen anak melaporkan mengalami
perundungan (bullying) di sekolah.

Halaman
123
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved